Sunday, November 18, 2012

Kenapa menolak produk China?

Kemampuan China yang bisa membuat berbagai macam barang itu di sisi lain menimbulkan kekhawatiran termasuk kualitas manakah barang yang kita terima?
Produk China itu tersedia dari kualitas yang paling jelek sampai kualitas yang paling bagus.
Variabilitasnya sangat besar. Kalau pas bagus ya memang bagus dan sangat bersaing dengan produk2 sejenis dari Amerika atau Eropa mis.Huawei, Lenovo dan Haier.

Industri oil and gas itu termasuk industri yang relatif risk-averse, sebisa mungkin meminimalkan risk.
Apalagi kalau terkait dengan keselamatan manusia. Kalau penghematan memakai produk China tidak sepadan dengan resiko yang bisa terjadi biasanya perusahaan lebih memilih produk yang sudah mapan di pasaran dan produksi negara yang track-record barang2 palsunya juga kecil.


Tanya - Budi Mahmud

Apakah ada yang tahu jawaban dari pertanyaan yangg selalu timbul dikepala saya kenapa perusahaan-perusahaan khususnya yg bergerak dibidang industri oil dan gas menolak menggunakan produk buatan China.  Saya sebenarnya sangat kagum dengan negara China ini, sanggup membuat produk apapun. Mulai dari obat2an, peralatan kesehatan dan teknologi pengobatan modern, peralatan telekomunikasi, peralatan perang dan luar angkasa, alat2 berat utk pertambangan, otomotif, elektronik, kapal laut dan pesawat, suku cadang, hingga barang2 kecil yang sulit ditemukan dipasaran.  Semuanya asli buatan negara itu sehingga komponen lokalnya 100%.


Tanggapan 1 - Riksha Lenggana


Dear rekan Budi,

Berikut opini pribadi saya, mohon jangan di asumsikan dengan opini rekan migas semua dan terlebih perusahaan tempat saya nadah gaji.

Walau mereka bisa bikin Flange, Piping, Plate dan lain sebagainya 100% perfect as per codes, dan dilengkapi dengan Mill Certificate, saya prefer tidak menggunakan. Kalo udah gak ada alternatif lain selain cost yg bisa terjun payung dengan material Jepun, USA, German, Korea, material dari China jadi pilihan terakhir. Dan itu pun akan saya pasang di tempat yang Non Critical.

Alasannya simple menurut saya, CMIIW, Mill Cert composition terkadang tidak sama dengan actual mat'l di terima.
Walau berasal dari 1 heat number / slab yg sama, belum tentu kekuatannya sama.

Ada Harga, ada Barang.
Sekali lagi ini opini pribadi saya, CMIIW yg bisa membuka wawasan saya bahwa opini ini gak sepenuhnya benar. Bahkan salah.
hehehe...

Tanggapan 2 - ar_ridwan79


Pengalaman pribadi waktu jd marketing jual produk wellhead cina ketika ikut tender di KPS tertentu mereka mengeluarkan list produk2 yg boleh ikut adalah produknya paman sam, jerman, inggris, jepang sedangkan produk china tidak diperbolehkan ikut. Setelah saya tanya secara iseng knp klo produk china tdk boleh ikut. Ini alasannya menurut info: berdasarkan pengalaman dan case, wellhead cina pernah meledak di suatu sumur dan menimbulkan fatality.
CMIIW.


Tanggapan 3 - ansyarierobby

Sekedar info perasaan product dari negara laen juga pernah fail dan, meneybabkan fatality tp ko ngga dilarang ya.


Tanggapan 4 - rio.hendiga@akersolutions


Mmmm KPS mana pak ? setahu saya tak ada regulasi di KPS di Indonesia saat bidding restricted from China, termasuk untuk raw material. Katakanlah untuk barang-barang API 6ª, raw materialnya dari Indonesia, nge forge di Indonesia, tapi ingotnya dari Singapore, Singapore ambil dari China juga kan. Apalagi perhitungan TKDN nya jadi gede banget, udah murah, cepet, TKDN besar, dah pasti menang tender.


Wellhead Cina:..maksudnya raw material China atau full set buatan China ? saya belum dengar ada wellhead meledak, klo salah prosedur service & test, lalu wellheadnya meloncat , kayaknya saya tahu deh. Thanks infonya pak.


Sering saya jumpai kasus tentang linear indication, ovality, dll yg suspectnya ke mechanical composition barang itu, namun setelah barang tsb di cincang, di test, check, dll, resultnya OK,belum out spec API ternyata( raw material dari China). Artinya ada fator lain kan untuk reject tsb, ingat Man, machine, methode, etc.


Menurut saya sih, beli material dari China sih ndak masalah selama bisa control qualitynya, klo tidak bisa control qualitynya, ndak bakal bisa bersaing dg competitor yg pakai barang China. Kan udah banyak tuh methode-methode untuk quality system. Saya kadang heran, company bayar mahal gaji orang  Purchasing dan QA, tapi paranoid banget dengan material China, memangnya mereka ndak ada usaha untuk control quality para vendornya ? Saya takutnya ada orang pura-pura paranoid barang China karena mereka ada conflict of interest.


Tanggapan 5 – Taufiq Firmansyah


Sebenarnya kemampuan China yang bisa membuat berbagai macam barang itu di sisi lain menimbulkan kekhawatiran termasuk kualitas manakah barang yang kita terima?
Produk China itu tersedia dari kualitas yang paling jelek sampai kualitas yang paling bagus.
Variabilitasnya sangat besar. Kalau pas bagus ya memang bagus dan sangat bersaing dengan produk2 sejenis dari Amerika atau Eropa mis.Huawei, Lenovo dan Haier.

Industri oil and gas itu termasuk industri yang relatif risk-averse, sebisa mungkin meminimalkan risk.
Apalagi kalau terkait dengan keselamatan manusia. Kalau penghematan memakai produk China tidak sepadan dengan resiko yang bisa terjadi biasanya perusahaan lebih memilih produk yang sudah mapan di pasaran dan produksi negara yang track-record barang2 palsunya juga kecil.



Tanggapan 6 - Ardianto H


Saya kebetulan pernah bekerja di perusahaan Amerika dan berurusan dengan pembelian atau kontrak jasa dengan perusaan Cina, seperti Submersible pump, Beam Pump, Rig China dll. Saat itu, strategy yang dipakai untuk mendepak barang China dan cukup ampuh adalah "Tidak Comply Dengan API Standard". Secara general, semua part di oil industry memang mengacu ke API Standard.

Nah, perusahaan dan barang China buatan rumah tangga yang non API Standard inilah yang banyaknya bukan main dan membuat sibuk kita.
Tetapi beberapa perusahaan bisa memenuhi syarat minimal tersebut dan akhirnya menang tender juga.


Tanggapan 7 - Hari Setyawan

Mas Budi,
Jawabannya ada bbrp mas:
1. krn perusahaan minyak itu berasal dr negara X, makanya diutamakan produk2 dr negara X yang dipakai, sekaligus kontraktor2 nya sekalian
2. krn gengsinya kurang mas....
3. saya dengar2, sekali lagi baru dengar blm membuktikan sendiri, KW nya nggak sesuai dengan standard permintaan, alias di bawah standard
4. ..........., silahkan ditambahkna sendiri mas.....



Tanggapan 8 –     arief rachman


Pak Budi,

IMHO, karena Quality dan Durability dan kurang menyakinkan. karena mass production & product without research (copas).



Tanggapan 9 -     aries rhsw

Setuju pak.

Kami adalah distributor tali baja (wire rope) dari china, meski produk kami sdh mempunyai sertifikasi internasional yang lengkap namun tidak mudah untuk menawarkan ke perusahaan oil dan gas, hampir semua perusahaan melihat (mungkin) semua produk dari china sudah di cap tidak bermutu,tdk layak,tdk bergaransi dll. Bahkan beberapa perusahaab langsung menuduh sertifikasi internasional pd produk china adalah palsu namun mereka tdk mau mengechek lebih detail

Padahal beberapa produk sejenis dari negara lain yg digunakan oleh perusahaan2 oil dan gas di Indonesia, banyak yg raw materialnya belinya juga dari China.

Mohon maaf ini bukan iklan, hanya memberikan informasi.



Tanggapan 10 - Hotler Na70


Sepertinya ini lebih pada masalah cara pandang suatu negara yg mengaku super power terhadap negara lain dan kelompok" NATO dan sejenisnya yg merasuki jiwa" individu dimanapun dia berada sangat dominan terhadap pengakuan suatu produk terlepas sertifikasi ada or tidak.
Perusahaan Oil & Gas didominasi oleh Amrik dan Euro bukan?


Tanggapan 11 - Elwin Rachmat

Saya justru heran mengapa kita masih mengimport peralatan yang sebenarnya sudah diproduksikan di dalam negeri. Sewajarnya produk nasional harus dimenangkan pada setiap lelang. Produk nasional tidak kalah mutunya dengan menggunakan standar yang diinginkan.
Sayangnya SNI belum mendapat pengakuan dari industri perminyakan didalam negeri. SNIpun sejauh pengetahuan saya belum banyak yang diwajibkan (masih sukarela).
Saya tahu beberapa anggota KMI turut aktif dalam perumusan RSNI bersama Ditjen MIGAS - BS
N. Para anggota KMI ini perlu didukung oleh kita semua agar SNI yang sudah di konsensus kan secara nasional dapat menjadi standar wajib. Dengan demikian kita tidak perlu pusing peralatan diimpor dari negara mana yang penting memenuhi SNI, tetapi produk nasional yang berstandar SNI adalah yang pertama di beli.



Tanggapan 12 - Pudji Untoro

Memang di Indonesia selalu muncul "heran" dimana-mana pak Rachmat dkk., dan itu intinya pada "kemauan" kita semua.
Mau menggunakan produk dalam negeri seperti iklan di TV "cintailah produk-produk In-do-ne-sia" atau sekedar biar "wah" pakai produk luar.
Memang produk kita masih kurang sempurna, tapi kalau kita sendiri tidak mau menggunakannya...gimana mau ada perbaikan mutu dan menjadi produk wah
berikutnya ?

Tapi hal tersebut bisa menjadi debat panjang, karena juga harus didukung pemerintah yang kuat untuk memberikan regulasi yang kuat dan dijalankan
serius untuk menjadikan produk kita mulai "dipaksakan" untuk dicintai di negri sendiri.

Andaikan saja kita MAU pasti akan MAJU dengan moto "Maulah pakai produk produk In-do-ne-sia".


Tanggapan 13 - Administrator Migas


Pak Elwin,

Benar Pak SNI sudah sewajarnya menjadi acuan kita bersama.
KMI sudah menjadi salah satu team perumus terkait SNI khususnya untuk Industri Migas dan Koordinator untuk penyusunan SNI bersama Ditjen Migas dan BSN dari KMI adalah Pak Abadi, nanti saya minta beliau menjelaskan kepasa rekan rekan Milis sampai sejauh mana peran KMI.

Terakhir saya mengikuti bersama Pak Abadi RSNI Drilling and Production Eqp 2012 serta Review RSNI - 3 XXXX/ISO 14310: 2012 untuk disesuaikan dengan ISO 14310:2008 Second Edition (2008-11-01) Petroleum and Natural Gas Industries Down Hole Eqp - Packers and Bridge Plugs)
Selanjutnya karena keterbatasan waktu saya tidak sempat mengikuti undangan2 dari Migas namun sudah banyak teman teman Milis Migas yang saya berikan kesempatan untuk ikut serta sebagai  anggota Team adalah  Pak Honocipto,Heribertus Koentoaji, Dimas Ariestyanto, Agung Habibie dll

Silahkan jika ada anggota Milis tertarik agar mengirim CV ke saya untuk saya libatkan.

Maju Terus SNI Migas



Tanggapan 14 -     Hotler Na70


Sebaiknya material yg sudah mendapatkan sertifikasi SNI khususnya dilingkungan industri Migas agar disosialisasikan ke perusahaan2 terkait, dengan berbagai cara dan bila perlu dalam setiap forum-forum diawali dengan sekilas tentang produk industri yg telah mendapatkan sertifikasi SNI dan bila perlu lebih khusus yg sangat dominan di industri Migas.
Demikian sedikit saran.


Tanggapan 15 - Elwin Rachmat


Kebanyakan SNI merupakan adopsi atau terjemahan langsung dari standar internasional (seperti ISO misalnya), atau standar industri/negara negara lain (seperti API - ANSI misalnya). Namun kita perlu waspada dengan standar yang dibuat oleh badan internasional atau negara lain.
Keadaannya di Indonesia bisa berbeda. Tidak kurang SNI yang dalam perumusannya harus merubah standar yang diacu. Bahkan beberapa SNI memang hanya ada di Indonesia dan belum ada negara lain atau badan standar internasional yang membuatnya, padahal Indonesia sudah membuat bahkan mengekspornya.

Standar tidak hanya menuliskan apa yang dikerjakan saja. Tetapi lebih daripada itu standar juga sangat mempertimbangkan mutu, keselamatan, daya saing ekonomi serta nilai tambah dan perlindungan terhadap industri di negara pembuat dan negara penggunanya.

Itulah sebabnya mengapa setiap SNI perlu diberlakukan wajib di Indonesia. Tidak ada manfaatnya SNI sukarela, karena tidak mengikat baik pembuat maupun penggunanya untuk bertanggung jawab.

Kepada anggota KMI yang menjadi anggota perumus SNI sektor perminyakan di Ditjen MIGAS - BSN saya ucapkan selamat bekerja dan berjuang. Anda tidak hanya menentukan bagi Indonesia, tetapi juga turut memperjuangkan kepentingan Indonesia di dunia internasional karena turut juga membahas rancangan standar ISO yang sedang dibahas untuk diberlakukan secara internasional.


Tanggapan 16 - Andi Yulius


Pak Elwin,
Apa yang sudah pernah kita usulkan usulkan sewaktu kita sama2 di SC-4 hingga saat ini belum ada realisasinya.
Payung hukum yang kita usulkan agar SNI diberlakukan wajib di Indonesia hingga saat ini sepertinya masih menjadi wacana.


Tanggapan 17 - Elwin Rachmat

Sudah sekitar 6 tahun saya tidak aktif lagi merumuskan RSNI dan mengkonsensuskannya serta membahas rancangan ISO untuk peralatan migas. Dulu kita hanya berhasil mewajibkan beberapa SNI saya dari sekian banyak yang kita usulkan. Keadaan saat ini saya kurang mengikutinya.
Namun bila kita cermati sepinya diskusi tentang SNI di milis menandakan tidak banyak yang peduli tentang SNI. Standar yang sering muncul di milis justru standar asing. Ini juga menandakan belum bertambahnya SNI wajib untuk peralatan wajib. Apalagi produk buatan dalam negeri. Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen standar dan peralatan asing padahal kitapun sanggup membuatnya. Jangan biarkan semua nilai tambah yang berkaitan dengan standar seluruhnya dilarikan asing.

Pada saat ini bisa dikatakan perumusan SNI dianggarkan oleh Pemerintah (dan sedikit bantuan swasta). Industri produsen dan pemakai di Indonesia belum memandang perlu mendukung SNI karena masih banyak yang diterapkan secara suka rela. Keadaan ini akan berubah sebaliknya bila semua SNI diwajibkan.

API pernah mempresentasikan makalahnya pada salah satu seminar yang bersamaan dengan ISO conference dan Forum Konsensus SNI. Saya sangat terkejut mengetahui bahwa API memiliki kemandirian keuangan dengan keuntungan serta kekayaan yang besar. Pemerintah AS hanya tinggal melakukan audit bagaimana standar API diterapkan di lapangan.

Sebaiknya kita meniru API untuk Indonesia. Perumusan SNI perlu di buat  oleh badan resmi yang dikelola secara swasta walaupun harus dikoordinasikan oleh BSN (dan juga KAN). Pemerintah dalam hal ini Ditjen MIGAS perlu menyiapkan auditor penerapan SNI di lapangan. Sampai saat ini Ditjen MIGAS hanya memiliki inspektor yang bertumpang tindih dengan badan atau perusahaan inspeksi, padahal badan atau perusahaan inspeksi tadi sudah atau dengan mudah mendapatkan akreditasi dari KAN.

Sebelum masalah SNI ini tuntas, masih akan timbul banyak kebingungan, kerugian bahkan kecelakaan yang tidak akan dapat ditemui jalan keluarnya. Bila terjadi kesalahan yang menyangkut standar terjadi, tidak seorangpun dapat dipersalahkan. Kita tidak mungkin mempersalahkan suatu peralatan dari negara manapun dengan menggunakan standar asing yang tidak berlaku di Indonesia.

Sebuah contoh penerapan standar di Inggris. Inggris adalah anggota aktif ISO. Semua standar ISO menjadi wajib di Inggris sesudah mengadopsi ISO secara bulat-bulat dan menamakannya BS-ISO XXXXXX (dengan kode nomor yang sama persis dengan kode nomor ISO).
Setahu saya BP secara otomatis menjadikan semua standar ISO (dan standar internasional lainnya) menjadi "kitab suci" yang hirarkinya paling tinggi dari semua peraturan teknis perusahaan.

Quo vadis Indonesia? Saya hanya melihat KMI dan para angotanyalah yang paling berpotensi untuk merealisasikannya.



Tanggapan 18 - Dirman Artib


Pak Elwin,
Bangga rasanya saya pernah terlibat dalam Sub Komite Teknis utk SNI peralatan dan barang migas kalau nggak salah tahun ...2003 atau 2004 (saya lupa). Walaupun tak diberi sertifikat pun oleh Sekretaris Komite yg berkantor di Ditjen Migas (mgkn ibu itu lupa dsb), hal itu tak menghalangi saya utk percaya diri berbicara di depan kawan2 asing di LN bahwa saya ex. Sub Komite Teknis SNI, apalagi ikut berfoto rame2 saat konsensus di Bandung.

Tetapi saya hrs mengakui bahwa ke depan nya proses perumusan SNI hrs dilakukan dgn cara tidak hanya sukarela, bukan karena time bagi profesional itu dihargai dgn mahal, tetapi juga menyangkut kesinambungan program dan tak ada salahnya sektor ini menjadi profesi bagi orang-orang yg terlibat. Kalau misalnya untuk merumuskan prosedur-prosedur kerja di prshn para profesional hrs dibayar, kenapa utk hal yg lebih besar menyangkut standard nasional yg strategies utk Republik Indonesia hanya mengandalkan kerja sukarela?

Intermezzo sedikit :
Saya pernah melakukan study atas sebuah kecelakaan di mana safety shoes salah seorang crane operator bisa ditembusi oleh paku yg diinjak oleh sang operator saat renovasi rumah miliknya. Dia melaporkan hal ini karena dia prihatin dgn kebijakan manajemen yg beralih dari sepatu yg BS EN standard ke SNI standard. Lalu dgn sangat detail saya bandingkan ke-2 standard tsb, di mana sebenarnya SNI mengadop standard BS EN ybs. Sebuah temuan yg cukup mengagetkan saya, karena beberapa persyaratan penting dalam BS EN tidak diadop dalam SNI, misalnya Uji Anti Electrocution dan Uji Tusuk. Saya diskusikan hal ini dgn vendor/supplier, serta production dan QC Manajer-nya yg juga anggota asosiasi pembuat sepatu safety dan juga terlibat saat perumusan SNI.  Jawabannya sangat sederhana, yaitu mereka tidak punya cukup dana utk investasi peralatan utk pengujian tsb. Kalaulah mereka investasikan dana dan biaya utk pengujian, maka mereka tak bisa bersaing harga dgn sepatu dari negara lain. Dan........saya hanya dapat menyimpan pengalaman saya ini, paling jauh hanya merekomendasikan kembali utk memakai kembali safety shoes BS EN standard, karena tak mau ambil pusing dgn konsekuensi membiarkan worker saya kesetrum listrik atau kena tetanus tertusuk paku.



Tanggapan 19 - Elwin Rachmat

Betul sekali Pak Dirman. Anda sudah bertugas dengan baik yaitu menggagalkan konsensus pengadopsian sistem managemen mutu API ( standar industri khusus untuk AS ), karena sebaiknya Indonesia mengadopsi sistem managemen mutu ISO ( standar internasional dimana Indonesia adalah anggotanya dan turut serta membahasnya ).
Tidak semua standar negara asing itu bisa diadopsikan dengan mudah dan sesuai dengan Indonesia.

Tentang tenaga perumus di Indonesia memang berbeda dengan di negara maju.
Di negara maju tenaga perumus umumnya adalah insinyur senior denganjabatan yang cukup tinggi yang hampir atau sudah pensiun (usia sekitar 60 sampai 70). Tentunya pengalaman dan kebijaksanaan mereka sudah pada puncaknya. Tenaga mereka dihargai sama dengan expert migas seperti biasanya (sangat mahal). Mereka mengerti benar dampak sebuah standar bagi industri di negaranya.

Sebaliknya perumus standar kita banyak yang relatif muda yang masih banyak harus belajar, tanpa saya lupa bahwa kita perlu memuji semangat mereka yang tinggi. Dulu saya menggagas bahwa setiap perumus perlu memiliki sertifikat untuk merumuskan standar SNI ( diberikan oleh BSN) dan ISO (yang diberikan oleh ISO).
Perumus muda ini disebabkan karena industri migas baik yang asing maupun yang nasional tidak tertarik untuk turut mengembangkan SNI. Tidak kurang saya menemui resistensi pada saat rekrutmen. Penyebab utamanya adalah bahwa SNI sektor migas hanya sukarela, sama sekali tidak berkaitan dengan kepentingan usaha mereka.
Mereka sangat sadar bila SNI diterapkan secara wajib, maka mereka harus menganggap SNI sebagai "kitab suci" semua pedoman, prosedur dan peraturan teknis di perusahaannya masing masing. Namun mereka tidak sadar dengan demikian Indonesia banyak dirugikan. Dalam hal ini Pemerintah dan BSN lah yang berwenang menerapkannya secara wajib. Untuk mendapatkan perumus standar seharusnya diperlukan seleksi yang cukup memadai dengan imbalan yang masuk akal untuk tenaga ahli senior. Pendapat Pak Dirman tentang imbalan bagi perumus ini sama dengan beberapa teman seprofesi yang sebaya dengan saya. Usia pensiun bagi tenaga ahli ini (sekarang antara 56-58 tahun) juga perlu dipertimbangkan ulang (sampai 70 tahun misalnya).
Sementara itu pembentukan masyarakat standarisasi (MASTAN-BSN) justru membolehkan siapa saja dengan sukarela untuk menjadi perumus. Sungguh ironis.

Pada saat saya masih aktif dulu dengan terpaksa saya tidak memperjuangkan
imbalan yang masuk akal bagi para perumus. Penyebabnya karena sebagai pegawai aktif di sebuah perusahaan migas asing tidak diperkenankan menerima apapun dari manapun. Saya hanya berhasil memperjuangkan sertifikat penghargaan bagi para perumus, namun itupun tampaknya tidak berkelanjutan.

Contoh buruk di industri sepatu yang anda ceritakan memang aktual. Tidak aneh bila sepatu Indonesia dihargai sama dengan sandal jepit.


Tanggapan 20 - Annas Humaidy Faqih


Contoh kasus safety shoes itu apakah tidak berdampak pada opini dunia luar terhadap SNI?  Disamping potensi korupsi klausa ketika penerjemahan sendiri, juga ada potensi masalah validitas. Misalnya SNI 3474-2009 nampaknya didasarkan ASME edisi 2007, dikejar ASME B31.8 edisi 2010.

Sudah saatnya ada ISO versi Bahasa dengan nomor dokumen tetap ISO. Agar produk industri Indonesia diakui setara. Kan ada ISO edisi bahasa French, Deutsch, Svenska dll.

DNV bisa didapat dengan download secara gratis. Kalau bisa harga SNI bisa murah untuk kepentingan masyarakat luas. Sayangnya beli SNI yang terjemahan/bilingual (dari ASME/ISO) seperti beli 1 (=SNI) dapat 2 (= plus ASME/ISO). Jika SNI tidak bayar royalti ke ASME/ISO, maka pasti kena tuntut pelanggaran akibat hak cipta & penyebaran. Jika bayar, pasti harga SNI lebih mahal dari versi ISO nya. Susah deh.

SNI juga sebaiknya memakai ukuran huruf lebih kecil agar nampak rapi, terkemas apik dan halaman tidak gemuk, harga turun.


Tanggapan 21 - Andi Yulius

Kalau tentang imbalan, saat itu kita sama2 setuju tidak akan menggunakannya untuk pribadi dan kita hibahkan untuk pembelian peralatan agar komunikasi dengan pihak DIRJEN MIGAS lebih lancar dengan menggunakan email tapi kalau certificate, hingga saat inipun saya belum pernah menerimanya walaupun keanggotaan saya masih berlanjut. Saat ini Pak Abadi (perwakilan KMI) satu tim dengan saya.
note: RSNI Downhole Equipment - Packer & Bridge Plugs hingga detik ini, sudah 6 tahun tapi belum juga rampung....

Tanggapan 22 - Elwin Rachmat


Terima kasih atas up datenya.

Koordinator dari Ditjen migas si SC 4 masih Pak Samseri atau sudah berganti lagi? Pergantian pejabat di Ditjen Migas yang tinggi frekuensinya kadang kadang dapat juga menjadi kendala.
Saya titip pesan sponsor kepada koordinator Ditjen MIGAS:
1. Diaktifkan kembali sertifikat penghargaan bagi semua perumus RSNI / pembahas draft ISO yang dibagikan setiap tahun pada saat Forum Konsensus SNI.
2. Diaktifkan kembali sertifikasi perumus oleh BSN dan ISO (bila ISO bersidang di Indoensia).
3. Diaktifkan dan di koordinasikan kembali konsolidasi perumus di luar kota beberapa beberapa hari untuk menuntaskan RSNI sebelum ditanggapi oleh masyarakat dan forum konsensus.
4. Pergunakan milis kelompok untuk berkomunikasi lebih baik.
5. Bagi perumus yang masih aktif bekerja perlu menghargai etika perusahaan yang berlaku, namun bagi yang sudah tidak aktif lagi perlu dipertimbangkan imbalan yang masuk akal.

Semoga tidak ada lagi RSNI yang terkatung katung.

Perlu disadari SC 4 seharusnya yang paling produktif karena paling banyaknya jumlah pekerjaan yang harus dirampungkan. Perlu juga di ketahui ISO TC 67 adalah Technical Committee yang paling aktif di ISO.

Apakah Pak Soni (Ketua KMI Banten - Radian Utama) dalam SC 4? Saya mendesak beliau agar aktif di sana.


Tanggapan 23 -     P D Priyowicaksono

Dear All,

Saya sangat setuju dengan pendapat pak Elwin, Kebetulan saya lagi ada project di korea; di korea semua barang dibuat dengan Standard korea dan mereka berani menunjukan bahwa standard korea dapat bersaing dengan Standard yang lain.
Mereka bahkan membuat marking tersendiri seperti EC mark dari Eropa (KC mark) pada equipment buatan korea

Suatu hal yang patut dicontoh dan bisa di mulai dari forum ini.

   
Tanggapan 24 - rulli.rachman


Yth rekan2 sekalian,

Saya mencermati diskusi yang menarik ini mengenai produk China. Berbicara kualitas produk tentu juga tidak lepas dari kehandalan (reliability).

Saya ingin bertanya, apakah pernah dilakukan study atau analisa statistik mengenai berapa jumlah leakage, failure, damage dan kegagalan2 lainnya yang terjadi pada produk China, dibandingkan dengan produk non China?

Sekedar sharing dan mungkin rekan2 bisa memberikan pandangan, saat ini saya tengah menjajaki kerjasama/partnership dengan salah satu perusahaan asal China. Mereka menginginkan kami utk menjadi local partner di Indonesia. Mengingat reputasi dan opini2 negatif mengenai produk China, saya masih berpikir ulang mengenai tawaran tsb. Karena tentu saja dgn menjadi partner mereka, saya punya tanggungjawab utk menjual barang 'dagangan' mereka.



Tanggapan 25 -    arthur silalahi

Om Rulli :)
Seperti yg sudah diungkapkan. produk cina itu sebaran kualitasnya sangat lebar.
Mulai dari yg "parah" sampai yg "superb" ini aku alami sendiri kok waktu memilih drilling/milling machine utk
workshop.
Di kalangan pedagan ada satu merk X yg sangat dijagokan karena. buatan cina tapi sangat bandel dan reliable.
Nah uniknya ternyata merk X ini sendiri juga dipalsukan sama sesama cina sendiri.
Sudah pasti ini karena mereka ingin mengambil kue pasar dari merk X tersebut yg menggiurkan. Karena jalinan baik dgn suplier aku dijelaskan mana merk X yg original dan merk X yang aspal.
Dan tentunya buat kita org2 teknik, pastinya sudah terasah dong sense nya utk identifikasi.
Misalnya dr kualitas bahan pembuat, kerapian manufaktur dsb.

Jadi dapat disimpulkan, di antara mereka sendiri ada yg "tega" utk memalsukan produk satu negara.
Bisa dibayangkan betapa kesalnya produsen di cina yg memang kualitas barangnya sudah bagus.
Capek2 mereka bikin kualitas, eh gak tahunya kue pasarnya tergerus dgn merk aspal.
Sudah gitu ditambah reputasi jatuh pula hehehe.

Intinya sih product knowledge yg disertai sense yg tajam tentang kualitas produk itu. jadi kalaupun om rulli mau jadi local partner mereka, konsumen yg di sini bisa percaya dgn kualitasnya.
Oh iya, perusahaan2 di cina itu terkenal sangat agresif loh dalam mencari local partner di indonesia.
Contoh kasus saya pernah sekedar main2 di portal perdagangan mereka (saya lupa namanya).
Saya waktu itu mencari2 produk lampu led utk berbagai fungsi.
Hanya dengan meninggalkan alamat email saya, bisa dibilang hampir tiap hari ada saja produsen led yg masukkan penawaran.
Saya salut dgn sistem portal mereka. Ada calon konsumen yg mencari satu produk maka produsen2 yg terkait dgn produk itu di-alert oleh portal tersebut.
Yang bikin hebat lagi mereka gak putus asa dalam menawarkan.
Sampai kalau ada produk terbaru tetap mereka tekun informasikan.
cuma mungkin gara2 saya gak pernah tanggapi (karena cuma iseng2 doang search led di portal itu).
Akhirnya pelan2 tinggal sedikit produsen yg masukkan informasi produk. Malah akhir2 ini sudah tinggal 1-2 saja.

Dari teman yg punya perusahaan trading di singapore. Mereka juga selalu berhati2 kok dalam mencari partner dari cina.
Yang paling penting itu adalah reputasi. artinya jgn berpatokan pada website, alamat dan brosur2 yg bagus. jadi kita emang harus mau bercapek2 ria mencari sendiri reputasi perusahaan tersebut.
Atau kalau mau lebih repot lagi ya kita sendiri yg menguji langsung produk mereka.
Tentunya dgn sample gratis dr mereka hehehe....

Sukses terus om Rulli :)

Tanggapan 26 - rio.hendiga@akersolutions

Berdasarkan pengalaman saya, tidak menyanggah  soal harga dan kualitas product dari China, namun jika kita order dlm qty yang banyak, harga product dari negara lain juga masih bisa bersaing dg Negara China. Dalam hal ini yang saya bicarakan adalah harga raw material. Beberapa Negara yg bisa bersaing dg China ( posisi atas  ) dlm jumlah besar adalah India,Italia, dan Mexico, sementara ini hanya itu yg saya tahu. Kalau dalam kualitas, Italia memang lebih bagus, China posisi bawah, India ada di atas China. Karena itu sering dlm klausul pembelian product china, jarang ditemui barang rusak diganti uang, tapi mintanya diganti barang juga ( butuh waktu ).

Saran saya, klo memang product itu untuk dipasarkan di Indonesia, bikin aja process assembly & QC process dilakukan di Indonesia. Bisa anda sub-cont kan , atau bikin pabrik sendiri, dg demikian anda bisa lebih confident mengontrol kualitas barang dan membuat lapangan kerja baru di negara kita.


Tanggapan 27 -     h_haerudin

Salam Migas,

Salah satu faktor penting untuk kualitas suatu produk adalah sejauh mana mereka memiliki komitmen untuk melakukan (1) riset; (2) innovasi; (3) improvement;

1. Untuk riset (baca: penguasaan sci & tech), dari jurnal ilmiah saja sdh dapat dilihat, seberapa banyak nama2 orang tiongkok muncul.

Secara institusi, salah satu pusat riset di migas/energi yg berafiliasi dg Sinopec, yaitu FRIPP (kalau tidak salah: Fushun Research Institue for Petroleum & Petrochemicals) memiliki sekitar 3000 Doktor (PhD) di berbagai bidang yg terkait dg bisnis ini. Mereka jg bangun Center of Excellence untuk setiap bidang, untuk migas misal salah satunya di Dalian University (kota yg indah dan punya klub bola bagus juga).

2. Innovasi di China sudah menjadi suatu Sistem Innovasi yg berjalan sangat baik. Bagaimana mereka menahan diri (menolak) untuk bergabung dg WTO agar tidak terkena trade barrier dlm perdagangan global dlm bentuk IPR (Intellectual Property Rights) dll. hingga mereka siap scr SDM, dan institusi.

Perusahaan didorong untuk mengembangkan produk dan teknologi sendiri. China berani membangun Unit Hydrotreating dg kemampuan tekanan operasi hingga 100 bar. Padahal Gas Oil Hydrotreating paling dijalankan pd tekanan kisaran 70 bar (untuk
ULSD), karena mereka antisipasi thd feedstock lain yg lebih berat lagi, dan punya rencana pengembangan.

Refinery di China berani mengoperasikan salah satu (dari 2 train) untuk resid hydrotreating dengan menggunakan katalis hasil penelitian mereka, sedangkan yg lainnya menggunakan katalis proven di pasaran (dari luar negeri). Sehingga bisa dipelajari dan transfer teknologi.

Di sini pimpinan perusahaan dilindungi untuk mencoba spt hal itu, meskipun pada awalnya akan merugi krn kinerjanya kurang baik dan harganya lebih tinggi. Kata mereka, kalau kami tidak mencoba, lalu bagaimana kami tahu kinerja teknologi buatan kami. Pimpinan mereka memiliki program dan target seperti itu, jd pelaksana tidak kuatir kena sanksi.

Artinya, leadership, aturan, hukum, institusi ditambah sdm yg handal dlsb mendukung innovasi berlangsung.

3. Continues Improvement ... Sudah pasti mereka jalankan, "Belajarlah sampai ke negeri China", demikian sabda Rosul.

Dengan SDM yg melimpah, hanya 5% saja yg excellent maka jumlahnya lebih kurang sudah sama dengan penduduk USA. Pasar dalam negeri dijaga dengan persyaratan relokasi perusahaan ke China dan kewajiban alih teknologi secara ketat.

Indonesia memiliki SDM, yg kalau 5% nya excellent sudah melampaui Singapore, Malaysia, Thai atau OZ sekalipun. Institusi sdh banyak. Aturan TKDN pun ada. Bahkan ada Komite Innovasi Nasional segala. Lalu "Leadership" di bidang pembangunan dan penguasaan teknologi? ... Wallahu alam.


Tanggapan 28 - yoest_02

Salam Migas,

Pak HH komentarnya bagus sekali, memberikan banyak pengetahuan bagi orang awam seperti saya.
Saya cuma komen satu hal, "belajarlah sampai ke negri cina itu bukan Sabda Rosul", itu hanya pepatah saja.


Tanggapan 29 – h_haerudin

Terima kasih koreksinya.

Tanggapan 30 - Dirman Artib 

Sekedar sharing tentang terminology Made in China, Made in UK, Made in USA Made in India. Sebenarnya kalau kita terjemahkan dalam Bahasa Indonesia artinya apa ya?
Apakah artinya Made in China berarti "Buatan China", spt pengertian kita dalam bahasa Indonesia "Buatan Indonesia" ? Ataukah lebih tepat artinya "Dibuat di China?".

Keterlibatan saya terakhir di Malaysia, di mana sewaktu itu MMC AMEC employer saya memenangkan FEED Project dari Shell Sabah Bhd. Bbrp pekerjaan penting TLP Platform concept , terutama yg berhubungan dgn teknology kelautan (marine) dan sub-structure sebenarnya kami subcontract-kan kepada perusahaan bernama ODL (Ocean Dynamic LLC) berkantor di Houston-TX. Mungkin anda berpikiran para Cowboys Texas yg mengerjakan FEED-nya, tidaklah demikian karena kenyataanya Insinyur-insinyur China yg justru berdatangan sewaktu pekerjaan dimulai, bahkan staff HR pun terkena serangan migraint utk mengurus visa kerja mereka yg prosesnya lumayan komplikatit karena otoritas pemerintah M'sia bertanya "apakah yg akan dikerjakan orang Cina ini tak bisa dikerjakan orang Melayu?".

Walaupun saya dengar bahwa Malikai TLP platform ini baru/sedang akan dikerjakan EPC nya, lalu "Made in" siapakah ini? Made in USA? Made in China atau justru Made in Malaysia (dibuat di Malaysia).

Btw.
Bagi yg tahu siapa yg akan meng- EPC atau pembuat TLP Plaftorm ini tolong dishare, maklum detektor saya di kawasan South East Asia sudah agak kedaluarsa.


Tanggapan 31 – Pala_utama

Pak Dirman,

Yang saya dengar Malikai akan di kerjakan di MMHE tapi kurang tahu yg mengerjakan EPC nya, pada construction nanti dengar2 white skin (bule) katanya sedikit Cuma ada pada posisi tertentu saja.
Tapi penggunaan alat yg mahal dan critical masih tetap dari luar.
Memang pemerintah Malaysia selalu mengatakan buatan Malaysia, padahal di dalam Peroyek tersebut ada orang China, India dan sekarang makin banyak orang Indonesia, bikin Jacket sdh hampir sama cepatnya dgn Mc.Dermott karena memang banyak orang2 bule dan Indonesia dari Mc.Dermott, untuk Sabah Shell yg kami kerjakan sekarang sdh 5 tahun belum selesai juga, mudah2an Malikai cuma 3-4 th aja...the longest project I ever worked...

Tanggapan 32 –     maryadi_ahmad 

Gak jg sih pak,
Di perusahaan tmpat sy cari nafkah salah satu major oil&gas producer company di Gulf/MidEast, sy nemu bbrp produk China bahkan utk produk secanggih Multiphase flowmeter ada yg asli merk China..
malahan salah satu EPC asli China jg menang & telah mengerjakan proyek yg cukup besar: pipeline 48" sepanjang 404 km dgn kapasitas minyak 1.8 juta
barrelperday.. (bakalan siap2 aja nih engineer2 China masuk pasaran dunia kerja OnG global).
Barangkali penawarannya memang murah dr China, tp faktor keseimbangan politik dgn mulai melirik player dr Far East countries macem Korea,China,jepang barangkali jg jd pertimbangan disini..

Di Indonesia sendiri konon industri telkom sdh didominasi produk & kontraktor dr China yah..? (Cmiiw)

Tanggapan 33 - Ranggi Ragatha

Huss, bukannya ada istilah "Russian Component, American Component, All Made In China".

Saya sendiri kagum dengan kemampuan bangsa china dalam melakukan reverse engineering (untuk tidak mengatakan menjiplak) mulai dari chemical powder fire extinguisher sampai pesawat tempur generasi ke 5. Dan setahu Saya ilmu metalurgi mereka sangat maju ya, malah katanya untuk smelting beberapa mineral mereka salah satu yang terbaik di dunia (sekali lagi ini katanya loh ya). Tapi Saya rasa mereka memiliki kelemahan di fase QC dalam proses produksi sebuah produk. Di tempat Saya kerja, ada project yang dikerjakan oleh Kontraktor dengan status PMA asal China. Tapi dalam project tersebut dikasih syarat, QC Department-nya semuanya harus orang lokal atau bule gitu (ini termasuk rasis kayaknya ya).


Tanggapan 34 -     hotna70

Ada lagi yg mungkin ketidak cermatan kita bhw Smart Phone yg kita gunakan(BB,Iphone,dll) beserta battray nya ternyata buatan China alias "Made in China" dan yg lucu bhw sy punya pengalaman menarik begini: Suatu ketika Sy pergi ke salah satu toko di Atrium Senen jkt utk menanyakan harga Iphone type terbaru 'S5 dan menanyakan harga headsetnya(kebetulan punyaku hilang)singkat cerita diablm punya dan hanya ada generasi sblmnya dgn alasan barang tsb blm produksi (tp sy sdh punya.red)ketika dia sebut harganya diatas 7jt sy cukup bangga hehe..dan sy tunjukkan punyaku dan petugasnya penasaran nanya brp harga kubeli sambil dia lht dan bilang 'ini china punya brp bapak beli?' tp aku bilang justru dia punya buatan china yg katanya Asli sambil kutunjukkan dibagian blakang Iphone nya dia tertulis 'Made in China' aku punya made in Taiwan.Ahirnya petugas tsb tdk komentar lagi,mungkin slama ini dia tdk pernah baca..heheheh.. Demikian juga kita.




0 comments:

Post a Comment