Skip to main content

Perbedaan A312 & A 240

A-312 menurut ASME II Part A, adalah spec untuk material pipe baik seamless maupun welded type. Untuk yg tipe welded, menurut paragraf 6.1.3, bahwa harus dilakukan tanpa penambahan filler pengisi (maksudnya automatic single passed gitu ya....CMIIW).Sedangkan A-240 adalah material plate (bukan pipe).Biasanya kita diperbolehkan menggunakan material plate untuk ukuran diameter pipa (misalnya untuk nozzle atau manhole) yg besar (biasanya di atas 400 mm / 16") untuk menggantikan material pipe, karena pertimbangan ekonomis.

Tanya - engineering@asc


Dear rekan - rekan

Tolong advisnya beda ASTM A 312 gr TP 347H dengan Pipa yang dibuat dari A 240 gr 347H ???!!!!!
ASTM A 312 juga requiring welded pipe-nya tanpa added filler metal, Apa maksud dari paragraph  tersebut  ?
Apa pengaruhnya bila welded pipe-nya menggunakan added filler metal  ??

Terima kasih untuk reply-nya.......


Tanggapan 1 - arief d hartanto


Pak Sulis dan Pak Tarigan,
Berikut interpretasi saya setelah membaca A 312/SA 312 di ASME II part A (2001 edition);
Bab 5.1.1 ==> Bahwa untuk pipa stainless A 312 dalam pembuatannya adalah seamless dan boleh di welding, yaitu menggunakan automatic welding. Kalimat berikutnya adalah "... no addition filler metal in the welding operation." artinya tidak diperkenankan menggunakan automatic welding process lebih dari satu filler metal. Adakalanya manufacture menggunakan automatic welding process secara tandem (adanya 2 filler metal digunakan secara bersamaan dalam sekali proces welding). Mesin welding automatic yg terkini memang memungkinan secara tandem, GTAW,SAW, maupun GMAW/FCAW. Karena memang process welding tandem ini bisa lebih cepat, tetapi tentunya akan memberikan heat input yang berlebihan. Mungkin ini yg dimaksud tidak diperbolehkannya adanya tambahan filler metal. CMIIW Hal ini diperkuat ketika kita baca bab 12 tentang repair welding ==> bahwa hanya diperbolehkannya menggunakan GTAW proses saat repair dgn welding.
Sedangkan tabel 4 itu digunakan sebagai reference jika kita melakukan repair welding pada A 312 menggunakan GTAW untuk pemilihan filler metalnya (lihat bab 12.3). Artinya jika kita memilih filler metal yg tidak ada di dalam tabel tsb, maka atas persetujuan Purchaser, filler metal untuk GTAW harus dipilih dengan syarat mempunyai kandungan alloy lebih tinggi dari base metalnya. biasanya dipilih kandungan Chrom maupun Nickel-nya yg lebih tinggi dari based metal (sesuai dengan syarat2 pengelasan pada stainless steel). Tinggal kita check aja sesuai tabel 1 bahwa A 312 TP 347H kandungan chrom nya 17 - 20 % dan Nickel nya 9 – 13 % ini lah yg menjadi dasar pemilihan filler metal untuk proses las GTAW.

A 240 TP 347H adalah plate yg di roll untuk pipa. Tinggal hitung2 aja berapa diameter pipa yg optimum akan lebih ekonomis jika menggunakan plate dari pada beli pipa-nya. mungkin teman2 dari manufacture mempunyai datanya.
 demikian
  

Tanggapan 2 - putri anindya

A-312 yg saya tahu menurut ASME II Part A, adalah spec untuk material pipe baik seamless maupun welded type. Untuk yg tipe welded, menurut paragraf 6.1.3, bahwa harus dilakukan tanpa penambahan filler pengisi (maksudnya automatic single passed gitu ya....CMIIW).
  
  Tetapi saya tidak menemukan spesifikasi filler metalnya khusus untuk tipe TP 347H. Saya berasumsi bahwa pipe ini hanya tersedia dalam bentuk seamless (lihat tabel 5). (Kalau ditambah filler metal, ya namanya bukan spec A-312 lagi, entah apa namanya....karena jadi tidak comply dengan ASME II / ASTM).
  
  Sedangkan A-240 adalah material plate (bukan pipe).
  
  Biasanya kita diperbolehkan menggunakan material plate untuk ukuran diameter pipa (misalnya untuk nozzle atau manhole) yg besar (biasanya di atas 400 mm / 16") untuk menggantikan material pipe, karena pertimbangan ekonomis.


Tanggapan 3 - engineering@asc


Dear P' Utomo...

 Maksud saya.....

1. Bila Plate A 240 gr 347 H di buat menjadi pipa dengan sambungan tanpa penambahan filler pengisi,  apakah ini masih bisa disebut sebagai A 312 gr TP 347H ? Bila iya....... Apa bedanya dengan pipa A 312 asli yang   tidak di buat dari plate ?

2. Apakah mungkin menyambung Plate tersebut menjadi pipa tanpa penambahan filler untuk ketebalan 14 mm ?
    Apa nama proses pengelasannya ? (Suplier kita menyebutkan dengan EBW,electron beam welding, tapi ini   -katanya- Very Expensive........ Is it Correct ?

Thank you banget Pak' untuk replynya, ini urgent sekali untuk proyek yang sedang kita lakukan, karena suplier kita  (dari ITALIA) bersikeras belum pernah menyambung plate ini menjadi pipa without added filler.....

Thanks again


Tanggapan 4 - arief.hartanto@rekayasa


Pak Tarigan,
1. selama material-nya A 240 TP 347H ya tetap plate, cuma di buat menjadi pipa. Dan nyambung nya menggunakan filler pengisi juga gpp. Bukan berarti plate A 240 TP 347H yg sudah disambung menjadi pipa kemudian berubah spesifikasi menjadi A 312 TP 347H. Secara chemical composition bisa dikatakan sangat mirip memang. Bedanya kalau A 240 TP 347H hanya disebutkan unsur tambahan Cb (Columbium) = 8 kali unsure Carbon, dan maximum harus kurang dari 1 %. Sedangkan kalau A 312 TP 347H disebutkan bahwa jumlah unsur Cb (Columbium) + tantalum = 8 kali unsure Carbon, dan maximum harus kurang dari 1 % (lihat pada tabel 1 masing2 material di ASME II part A). A 240 TP 347H keluar dari pabrik pembuat baja berupa pelat/sheet/strip, sedangkan A 312 TP 347H berupa pipa baik itu yg seamless maupun yg dibuat dgn welding.

2. Mungkin saja menyambung plate tanpa filler. Tapi pertanyaannya apa perlu? Toh tidak ada klausul2 yang tidak memperbolehkan welding di ASME II part A untuk kedua material tersebut. A 240 TP 347H boleh di welding dan A 312 TP 347H juga boleh. Jenis welding yg tanpa filler --> memang salah satu contohnya adalah yg menggunakan prinsip radiasi (seperti EBW = Electron Beam Welding atau LBW = Laser Beam Welding). Tapi sangat2 mahal. Dan biasanya welding yg menggunakan prinsip radiasi ini digunakan untuk high precission component.

Saran:
Kalau cuman mau bikin pipa dari plate, bisa disambung pakai welding dgn  filler pengisi.

Demikian and CMIIW.


Tanggapan 5 - engineering@asc


Tapi pak.......(juga rekan-rekan dari steel manufactur),

Ngomong - ngomong di pasaran itu apakah A 312 welded pipe ketebalan lebih dari 10 mm disambung tanpa menggunakan filler added ? Bila iya prosesnya bagaimana ?

Kalo saya liat di ASME II, A 240 jika disambung menjadi pipa namanya jadi A 358, jadi........ kenapa ASME distinguish those material A 358 dan A 312 untuk grade yang sama ?

Untuk pak arief......Unsur tambahan Cb & Ta untuk A 240 vs A 312 kalo saya liat di ASME II komposisinya sama pak, ga ada perbedaannya, CMIIW.

Thanks again


Tanggapan 6 - arief hartanto@rekayasa


Pak Tarigan,
1. Pengelasan pada Austenite Stainless Steel memang bisa dilakukan tanpa menggunakan filler metal. Salah satu contoh yg paling gampang yaitu proses las GTAW. Jika tanpa filler metal maka tungsten nya diatur sedemikian rupa sedekat mungkin dgn base metal yg akan di las, welding speed, ampere maupun voltage-nya juga tertentu. Tetapi ini biasanya dilakukan untuk thickness yg tipis, seperti tubing2 maupun pipa yg tipis, salah satu referensi yg pernah saya baca menyebutkan hanya untuk thickness 3 mm saja akan mempunyai hasil yg baik. Selebihnya beberapa referensi sangat2 menyarankan untuk tetap menggunakan filler metal saat mengelas austenite stainless steel.

2. Untuk ketebalan lebih dari 10 mm (kasus Pak Tarigan punya thickness 14 mm cmiiw) bisa disambung dgn pengelasan tanpa menggunakan filler metal, yaitu dgn proses las yg tentunya bukan kelompok pengelasan "ARC" (GTAW pasti nya tidak akan memberikan hasil yg baik). Proses las yg dimaksud yaitu yg menggunakan prinsip radiasi (EBW ataupun LBW), yg saya ketahui kedua proses ini bisa dimanfaatkan untuk mengelas sampai dgn ketebalan 6 in ~ atau sekitar 150 mm. Proses pengelasannya ya harus mengikuti ketentuan2 dari mesin las yg digunakan, salah satunya pengaturan gap anatar kedua base metal yg sedekat mungkin.

3. Kalau Pak Tarigan sebagai steel manufactur, beli plate A 240 kemudian di sambung sesuai dgn ketentuan2 di A 358 yaitu menggunakan electric fusion welding, maka keluar dari pabrik yg berupa pipa tersebut, mill certificate yg dikeluarkan dari pabrik harusnya A 358. tetapi jika bapak cuma beli plate A 240 kemudian di sambung sendiri untuk keperluan pada suatu equipment, contohnya bikin nozzle2, ya tetep material tersebut sebagai A 240.

4. material A 358 terbatas hanya untuk produksi pipa yg menggunakan sambungan electric fusion welding, tetapi kalau A 312 bisa seamless dan bisa welded (tidak dibatasi jenis weldingnya). Coba dilihat lagi pada tabel 1 pada A 358, bahwa tidak semua material yg ada di list A 312 ada di tabel A 358 --> salah satu contohnya adalah A 358 tidak ada yg dibuat dari plate A 240 TP 347H. Cmiiw

Betul pak, sepertinya dari chemical composistion untuk unsur tambahannya bisa dikatakan sama.


Tanggapan 7 - muhammad rifai rifai_engineer


Pak Tarigan,
  
  yang saya tahu, A312 dari sononya adalah material pipa sedangkan A240 adalah plat. kalo dari segi mekanikal mungkin akan berbeda nilai allowable stressnya berdasar asme ii. jika itu di vessel, maka nozzle yang dari plat tentunya harus diradiografi sesuai kodenya.
  
  - ASTM A 312 juga requiring welded pipe-nya tanpa added filler metal, Apa
maksud dari paragraph  tersebut  ?
  menurut saya, dalam pembuatan pipa itu jika itu welded pipe maka dalam pembuatannya tidak boleh pake filler... pengelasannya bisa berupa las tekan ato yang lainnya
 
- Apa pengaruhnya bila welded pipe-nya menggunakan added filler metal  ??
  mungkin akan berpengaruh pada sifat nya, karena sifat filler dan base metalnya itu beda

Comments

Popular posts from this blog

DOWNLOAD BUKU: THE TRUTH IS OUT THERE KARYA CAHYO HARDO

  Buku ini adalah kumpulan kisah pengalaman seorang pekerja lapangan di bidang Migas Ditujukan untuk kawan-kawan para pekerja lapangan dan para sarjana teknik yang baru bertugas sebagai Insinyur Proses di lapangan. Pengantar Penulis Saya masih teringat ketika lulus dari jurusan Teknik Kimia dan langsung berhadapan dengan dunia nyata (pabrik minyak dan gas) dan tergagap-gagap dalam menghadapi problem di lapangan yang menuntut persyaratan dari seorang insinyur proses dalam memahami suatu permasalahan dengan cepat, dan terkadang butuh kecerdikan – yang sanggup menjembatani antara teori pendidikan tinggi dan dunia nyata (=dunia kerja). Semakin lama bekerja di front line operation – dalam hal troubleshooting – semakin memperkaya kita dalam memahami permasalahan-permasalahan proses berikutnya. Menurut hemat saya, masalah-masalah troubleshooting proses di lapangan seringkali adalah masalah yang sederhana, namun terkadang menjadi ruwet karena tidak tahu harus dari mana memulainya. Hal tersebut

Apa itu HSE ?

HSE adalah singkatan dari Health, Safety, Environment. HSE merupakan salah satu bagian dari manajemen sebuah perusahaan. Ada manejemen keuangan, manajemen sdm, dan juga ada Manajemen HSE. Di perusahaan, manajemen HSE biasanya dipimpin oleh seorang manajer HSE, yang bertugas untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan seluruh program HSE. Program  HSE disesuaikan dengan tingkat resiko dari masing-masing bidang pekerjaan. Misal HSE Konstruksi akan beda dengan HSE Pertambangan dan akan beda pula dengan HSE Migas . Pembahasan - Administrator Migas Bermula dari pertanyaan Sdr. Andri Jaswin (non-member) kepada Administrator Milis mengenai HSE. Saya jawab secara singkat kemudian di-cc-kan ke Moderator KBK HSE dan QMS untuk penjelasan yang lebih detail. Karena yang menjawab via japri adalah Moderator KBK, maka tentu sayang kalau dilewatkan oleh anggota milis semuanya. Untuk itu saya forward ke Milis Migas Indonesia. Selain itu, keanggotaan Sdr. Andry telah saya setujui sehingga disk

Leak Off Test

Prinsipnya LOT (leak off test) dilakukan untuk menentukan tekanan dimana formasi mulai rekah. Tujuannya: 1. Menentukan MASP (Max. Allowable Surface Pressure). Yaitu batasan max surface pressure yg boleh kita terapkan selama drilling operation, tanpa mengakibatkan formasi rekah (fracture). 2. Dengan mengetahui MASP, berarti juga kita bisa mengetahui Max. mud weight yg boleh kita terapkan selama drilling operation, tanpa mengakibatkan formasi rekah (fracture). 3. Menentukan Kick Tolerance. Yaitu maximum kick size yg masih bisa kita tolerir untuk dihandle. Parameter ini nantinya juga berperan untuk menentukan depth casing shoe yang aman dari sudut pandang well control issue. 4. Mengecek kualitas sealing antara cement dengan casing Tanya - BGP HSESupv. BGP.HSESupv@petrochina Dear all Saat masih di rig dulu saya sering mendengar istilah leak off test. dimana step2nya kira kira sebagai berikut 1. Cementing Job 2. TSK ,masuk string dan bor kurang lebih 3 meter dibawah shoe. 3. dilakukan