Skip to main content

Safe Distance dari Hydrocarbon Pipe Rack


Setiap perusahaan besar memiliki standard jarak aman yang tersendiri, Total misalnya memiliki klasifikasi jarak aman yang harus dihitung berdasarkan consequence analysis nya (banyak kriterianya)

Tanya - Hendra Messa

Rekan2 sekalian, 

Saya ada pertanyaan mengenai jarak aman dari hydrocarbon piperack,  di tempat kerja ( petrochemical plant) akan ada penambahan workshop building ( konstruksi baja) yg lokasi nya dekat dg piperack ( hydrocarbon ),menjadi pertanyaan seberapa jauh jarak aman dari pipe rack, bisa dibuat bangunan yg ada hunian nya ( man occupied) spt utk workshop. Kalau jarak aman dari tank semua kita tahu, tapi kalau dari pipe rack, saya coba cari, belum ketemu standard nya,  mungkin rekan semua ada yg bisa share mengenai hal tsb sebagai informasi hydocarbon piperack nya, terdiri dari bbrp pipa mulai dari ukuran sedang sampai paling besar sekitar diameter 42 inch  ( pipa utk hydrocarbon flare ), ketinggian pipe rack sekitar 15 meter dari permukaan tanah. Terima kasih banyak sebelum nya.

Tanggapan 1 - Alfiansyah (Moderator KMI KBK HSE)

Kang Hendra, 

Jikalau mau merujuk ke layout and spacing table baik yg memakai referensi IRI, CCPS Guidelines spacing table atau beberapa internal company specification di USA untuk process piping (main pipe rack) ke occupied building semacam warehouse adalah 30 m, 61 m dan 91 m.  For easy reference ada yg mengklasifikasikan dengan piping condition high pressure (>500 psig) vs low pressure (<500 psig). 

Hazards yg diperhitungkan dalam spacing table tersebut hanyalah berlaku untuk fire dan security needs, untuk toxic dan explosion memerlukan perhitungan dan bisa lebih besar, ini disclaimernya dengan catatan fire/blast wall dan fire/blast proof building memang tidak disediakan. 

Nah tinggal engineering judgement dan layer protection lainnya yg harus dipikirkan dari sisi operational, maintenance, surveillance jika spacing table yg mau dipakai sebagai rujukan decision tersebut. 

Confidential and limited references : 

1. IRI IM 2.5.2 Oil and Chemical Plant Layout and Spacing 

2. Appendix A Typical Spacing Table CCPS Guideline for Layout and Spacing 

3. Beberapa company specification 

Tanggapan 2 - DAM

Kang Hendra

Terus terang cukup sulit untuk menjawab pertanyaan Kang Hendra jika yang diinginkan adalah perhitungan risk based calculation karena keterbatasan data dan informasi yang diberikan. Namun berikut yang bisa saya sampaikan :

- Jika diasumsikan pipa yang dirujuk adalah Flare Header dengan ukuran 42 inches, maka jarang yang terjauh untuk LEL dengan ukuran bocor 150 mm adalah sekitar 19 m (dari diameter luar pipa) lebih sedikit (angin sepoi sepoi 1.5 m/s dengan klasifikasi cuaca kelas D, asumsi gas 70% methane, dan tekanan flare header 3 barg, asumsi bocor di ketinggian 15 meter mengarah ke sudut 45 derajat ke arah bawah dari horizontal)

- Setiap perusahaan besar memiliki standard jarak aman yang tersendiri, Total misalnya memiliki klasifikasi jarak aman yang harus dihitung berdasarkan consequence analysis nya (banyak kriterianya) - saya ngga tahu kenapa Borouge tidak memilikinya yah?

- Jika mau cepat dan aman ikuti apa kata Rudy, eits salah, Alvin ... dia sudah meluangkan waktu di padang tandus timur tengah untuk mengetikkan beberapa reference yang bisa dirujuk... percayalah apa yang dikatakan Rudy... eits, Alvin... silahkan simak dan maknai sumber referensi tersebut

- Jika ingin memberikan clue mbok yah jangan semata mata dilihat dari ukuran pipanya mas melainkan berikan process parameternya. sepanjang saya bergelut di dunia process safety, pipa berisi hydrocarbon bertekanan tinggi lebih memiliki high risk dibanding pipa berisi hydrocarbon bertekanan rendah.. jadi jangan dilihat dari kebongsoran ukurannya lantas menuduh dengan semena mena pipa flare 42 inches sebagai paling bullying dalam hal risk. Semoga tidak semakin pusing dan bingung di padang tandus sana.

Tanggapan 3 - Dirman Artib

Borough itu subsidiary Shell bukan?Kl benar, malu dong sama Cak Garong dibilang nggak punya standard/specification. Tinggal minta sama boss akses ke Shell DEP. Secara umum saya mau refresh sekali lagi, bahwa bekerja sbg Engineer itu lebih bnyak hanya merujuk kpd prosedur dan spesifikasi perusahaan atau klien anda dulu, kl nggak ada baru dicari di international codes spt ASME, ISO, API, NACE dll. Lain halnya jika anda sdg melakukan riset akademik, maka dimungkinkan mengembangkan fenomena baru dan model matematika baru, pastilah penemuan baru belum boleh dikonstruksi, krn hrs lewat uji validasi teknologi dulu.

Tanggapan 4 - Yoga Pratama

Mas Hendra,

API RP 752 menjelaskan methodology bahwa penentuan "minimum separation distance" antara process area dan "building" dapat menggunakan dua pendekatan:

1. Risk based approach

2. Spacing Table Approach. Di perusahaan tempat saya bekerja mengharuskan melakukan consequence analysis untuk penentuan minimum separation distance dengan kriteria tertentu. (Tidak fully risk based approach juga karena metode perhitungan dan kriterianya sudah ditentukan). Saya tertarik dengan spacing table approach yang ditanyakan mas hendra. Mohon rekan2 dapat disharing/bersedekah ilmu (via japri) Guidelines for Facility Siting and Layout CCPS ed 2003. terima kasih.

Tanggapan 5 - Akh. Munawir

Mas Hendra,Coba cek di Tabelnya IRI (Industrial Risk Insurer), di dokumennya ada Jarak Aman Minimum dalam Matrik.

Tanggapan 6 - Hendra Messa

Terima kasih banyak,  Kang Alvin, pak Munawir, mas Yoga atas sharing informasi nya. Bermanfaat sekali masukan nya.


Comments

Popular posts from this blog

DOWNLOAD BUKU: THE TRUTH IS OUT THERE KARYA CAHYO HARDO

  Buku ini adalah kumpulan kisah pengalaman seorang pekerja lapangan di bidang Migas Ditujukan untuk kawan-kawan para pekerja lapangan dan para sarjana teknik yang baru bertugas sebagai Insinyur Proses di lapangan. Pengantar Penulis Saya masih teringat ketika lulus dari jurusan Teknik Kimia dan langsung berhadapan dengan dunia nyata (pabrik minyak dan gas) dan tergagap-gagap dalam menghadapi problem di lapangan yang menuntut persyaratan dari seorang insinyur proses dalam memahami suatu permasalahan dengan cepat, dan terkadang butuh kecerdikan – yang sanggup menjembatani antara teori pendidikan tinggi dan dunia nyata (=dunia kerja). Semakin lama bekerja di front line operation – dalam hal troubleshooting – semakin memperkaya kita dalam memahami permasalahan-permasalahan proses berikutnya. Menurut hemat saya, masalah-masalah troubleshooting proses di lapangan seringkali adalah masalah yang sederhana, namun terkadang menjadi ruwet karena tidak tahu harus dari mana memulainya. Hal tersebut

[Lowongan Kerja] QA System Coordinator, Pipe Yard Coordinator, Customer Assistant Coordinator

With over 30 years' experience, Air Energi are the premier supplier of trusted expertise to the oil and gas industry. Headquartered in Manchester UK, Air Energi has regional hubs in Houston, Doha, Singapore and Brisbane. We have offices in 35 locations worldwide, experience of supply for 50 countries worldwide, and through our company values: Safe, knowledgeable, innovative, passionate, inclusive, and pragmatism, WE DELIVER, each and every time. At the moment we are supporting a multinational OCTG processing operation in seeking of below positions: 1.       QA System Coordinator Coordinates Quality System development in plant, directing the implementation of specifications and quality norms. Administers complaints regarding non-conformities and provides quality process information in support of decision making. Develops the necessary procedures, instructions and specifications to ensure Quality System conformity. Coordinates and organizes the execution of interna

Efek korosi dari pembakaran NH3 + H2S di Furnace

Complete combustion H2S membutuhkan temperatur antara 625 s/d 1650 degC tergantung komposisi acid gas.  Namun, temperatur minimum untuk efektivitas operasi adalah 925 degC.  Dibawah temperatur ini biasanya  stabilitas flame tidak bagus dan sering muncul free O2 di flue gas.  Untuk kasus Pak Novriandi, free O2 di flue gas harusnya gak masalah karena akan langsung terbuang melalui stack (berbeda jika kondisi ini terjadi di unit pengolah acid gas yang akan menyebabkan korosi di waste heat boiler); namun, dengan temperatur furnace yang Pak Novriandi punya sebesar 843 degC, kemungkinan akan menyebabkan flame menjadi tidak stabil. Tanya - Novriandi   Ysh, Bpk & Rekan Migas Indonesia Kami memiliki equipment furnace dengan servicenya adalah pemanas process, Furnace tersebuttipe vertical tube multi coil dengan material tube inlet A335 P9 dan tube oult A312 TP316. dengan fuel sesuai design adalah kombinasi fuel oil dan fuel gas. Pada kasus tertentu di salah satu unit untuk mengolah dan