Skip to main content

Sekilas tentang Daur Hidup Functional Safety

Mungkin banyak diantara kita yang lebih kenal istilah SIL daripada Daur Hidup Functional Safety itu sendiri. Padahal hampir 100% ujian untuk sertifikasi Functional Safety harus memahami apakah itu Daur Ulang Functional Safety.

Pembahasan - Darmawan Ahmad Mukharror

 

Kawan-kawan sebangsa dan setanah air...  

Ijinkan saya berbagi ilmu sedikit (sesungguhnya yang sedikitpun kalau itu dibagi akan membawa berkah)  

Mungkin banyak diantara kita yang lebih kenal istilah SIL daripada Daur Hidup Functional Safety itu sendiri. Padahal hampir 100% ujian untuk sertifikasi Functional Safety harus memahami apakah itu Daur Ulang Functional Safety. Memahami functional safety hanya sebagai atau dalam kacamata SIL saja berarti mengerdilkan makna keseluruhan Daur Ulang Functional Safety. Ketika kita bicara tentang Daur Ulang Functional Safety tentu referensi utamanya adalah IEC-61511 dan IEC-61508, yang juga diadaptasi di berbagai negara, seperti Amerika yang mengeluarkan ANSI/ISA 84.00.01-2004 yang merupakan modifikasi IEC-61511 (dengan tambahan klausul grandfathering).  

Kesulitan dalam mengadaptasi hasil hasil dari HAZOP, HAZID Risk Assessment seperti Quantitative Risk Assessment / Scenario Based Risk Assessment menjadi kebutuhan safety function telah lama disadari oleh para ahli Instrumentasi dan Electrical, yang mana normalnya mereka tidak turut campur dalam studi risk assessment. Begitu pula sebaliknya, banyak juga process engineer -  yang mana sebagian juga dilibatkan dalam Risk Asssessment - yang kesulitan memahami informasi apa saja yang bisa diberikan pada instrument engineer (misalnya) mengenai integritas peralatan yang dibutuhkan. Nah, karena itulah Kerangka Kerja Daur Hidup Functional Safety ini dibuat, untuk menjebatani keseluruhan perjalanan hidup sebuah safety instrumented function dan/atau hingga sekelompok Safety Instrumented System diusulkan, didesain, diinstalasikan, dioperasikan hingga dibongkar dan diberhentikan.  

Secara umum, berbagai perusahaan mengadaptasi sistem Daur Hidup Functional Safety dengan caranya masing masing, meski panduan utamanya tetap merujuk pada IEC-61511  

Perjalanan Daur Hidup Functional Safety diawali dengan pelaksanaan studi Hazard Identification misalnya dengan menggunakan metode HAZOP, HAZID, What-if, dst.  Karena sifatnya yang kualitatif, sebagian perusahaan melanjutkannya dengan melakukan studi Quantitative Risk Assessment (yang saya tahu Total EP sudah melakukannya pada sebagian besar fasilitasnya di seluruh dunia). Pertanyaan terbesar, apa saja data yang bermanfaat yang bisa ditarik dari HAZOP dan Risk Assessment ini untuk digunakan dalam tahap berikutnya pada perjalanan hidup Functional Safety?? Banyak! dan tergantung metodenya.  

Yang paling utama tentu saja skenario kejadian. Skenario kejadian ini sangat penting untuk merepresentasikan kenapa fungsi keselamatan itu dipasang? Skenario secara umum adalah pasangan sebab - akibat kejadian, misalnya :

"Sebuah kejadian penyebab kegagalan proses yang spesifik seperti ketinggian aras muka cairan yang terus naik yang menyebabkan kebocoran yang diikuti dengan penyalaan sehingga menyebabkan kebakaran genangan (pool fire)".

Bisa saja skenario dispesifikkan lagi hingga menyebabkan dampak, misal: "...... sehingga menyebabkan kebakaran genanan (pool fire) yang menimbulkan potensi meninggalnya 3 orang yang berada di tempat kejadian".  

Pesan saya, dalam melakukan studi hazard identifikasi, bikinlah skenario itu tergambar secara runut dan rinci sehingga mudah dipahami. Jangan langsung menuliskan di kolom konsekuensi pada lembar kerja HAZOP "Potential for explosion". Tidak ada nya penjelasan runut dan rinci menyebabkan instrument engineer atau siapapun yang kemudian terlibat dalam daur hidup functional safety pada tahap tahap berikutnya akan gagal paham mengenai "kenapa sik alat ini dipasang atau diusulkan untuk dipasang si unyu process engineer baru kita itu?" Semua lapisan pelindung, apalagi sekelas safety instrumented function dipasang kan pasti ada alasannya bukan?? Nah HAZOP/Hazid atau metode lainnya yang digunakan inilah kesempatan pertama yang memberikan pondamen atau basis bagi management functional safety secara keseluruhan.   

Kegagalan dalam menggambarkan skenario adalah potensi kegagalan pertama dalam memahami daur hidup functional safety....  

(BERSAMBUNG)  

Tanggapan 1 - Bernath Tjajadi

Mas DAM ysh,

Akhirnya ada topik untuk proses safety juga setelah sekian lama membahas BBM dan potential handover of Mahakam Block .. hehehe

Terima kasih buat mas DAM yang sudah membagi sedikit ilmunya yang sangat berharga ini.

Jujur saja, saya juga belum lama kenal yg namanya safety life cycle ini. Itupun langsung dari buku sakti pinjeman temen saya (Marszal & Scharpf) yang memang sangat membantu dalam mengerti the whole bigger picture nya functional safety.

Saya sependapat dengan mas DAM yang meng-highlight tentang kesulitan instrument & electrical engineer ketika menerjemahkan hasil dari SIL Assessment (HAZOP, LOPA or QRA). Hal sebaliknya tentu juga berlaku untuk process engineer yang kesulitan untuk mengerti tentang SIL Implementation and Operation phase.

Contohnya saya. Sebagai process engineer (+ 5 yrs) yang belakangan lagi otodidak belajar functional safety, relatif cukup mudah untuk mengerti dan memahami fasa SIL analysis seperti HAZOP & LOPA. Bahkan yang cukup extreme tingkat kesulitannya seperti QRA dan consequence analysis, meskipun sulit dan belum saya kuasai tapi minimal buat saya masih keliatan ujungnya.

Nah tapi kalo sudah bicara tentang SIL implementation and Operation phase (SIS Conceptual design / architecture, SIS detail design, selection of logic solver, SIS validation, SIS installation, proof testing, Commisioning & Start-up Acceptance Test etc), agak sulit dimengerti buat saya. Mohon wejangan dari mas DAM tentang hal ini. Setau saya, anda dulu pernah menjadi seorang process engineer yang lumayan mumpuni (sekarangpun saya percaya anda masih sangat mumpuni.. hehe). Bagaimana cara menjembatani hal ini untuk insinyur2 proses seperti saya ini? Belum lama ini sebenarnya ada tawaran untuk mengikuti training functional safety dan kesempatan untuk mendapatkan certificate dari TUV Rheinland (bukan CFSE seperti mas DAM, yang ini gelarnya FS Eng. dan hanya butuh exp minimal 3 thn di process safety). Tapi saya langsung "jiper" untuk mengambil sertifikat ketika melihat ada beberapa materi training yang tidak saya kuasai, terutama di bagian SIL implementation & operation phase yang cenderung "berbau" instrument dan electrical. Kalau tidak keberatan, saya minta tips2 dari mas DAM.. hehehe

Ohya mas DAM, apakah bisa dishare referensi judul buku2 sakti yang membahas hal2 tersebut supaya bisa saya beli buku2nya?

Mudah2an pertanyaan saya juga bisa mewakili process engineer lainnya yang ingin belajar functional safety.

Tanggapan 2 - Darmawan Ahmad Mukharror

Dear Bernath  

Sebenarnya tidak perlu takut untuk ikutan sertifikasi. Meski pada kenyataannya susah, (ngomong doang mah gampil) karena si peserta sertifikasi umumnya menerima embel embel, kalau gak lulus ga bakal ditraining sertifikasi lagi lah, kalau ga lulus akan malu lah...  

Jujur, gak perlu malu, karena saya pun pernah gagal sertifikasi NEBOSH (dari dua puluh orang ternyata yang lulus cuman 1 orang pada waktu itu jadi yah bukan saya saja yang gagal).. setelah saya ambil lagi saya lulus dengan memuaskan.. namanya manusia pasti ada saatnya gagal.. tidak selalu kita bagus dan berhasil...jadi kesimpulannya jangan takut .. Gusti Allah akan kasih ganjaran kalau kita berusaha terus..  

Buku sakti? buku paling sakti saya yah IEC-61511, IEC-61508 dan ANSI/ISA 84 packages... itu sudah mencakup semua.. buku buku lain kan interpretasi masing masing penulis tentang implementasi standard standard tersebut di atas. bagi saya menguasai standardnya terlebih dulu itu sangat penting, karena pada dasarnya semua udah ada dalam standard2 tersebut.  

Semoga berguna  

Tanggapan 3 - Juna ed

Mas DAM  

Boleh dishare standard IEC-61511, IEC-61508 dan ANSI/ISA 84 packages ini disini?  

Tanggapan 4 - Darmawan Ahmad Mukharror

Sebagai profesional kita harus beli sendiri itu standard... atau company tempat kita bekerja yang membelikannya  

Mohon maaf saya ga bisa share di sini

Tanggapan 5 - Dirman Artib

Tenang kawan Juna Ed, Mas Crooth jgn ditagih di depan khalayak ramai :) :)  Kalau tidak dapat genuine standard-nya, saya punya Recommended Guideline untuk applikasi "DUO" sekaligus yaitu IEC-61508 dan IEC-61511. Kalau minat, dgn elegan silahkan Japri. Juga asa bbrp artikel terkait IEC-61508 dan IEC-61511.

Noted.

Biasanya kalau diumumkan di milis begini, bisa-bisa 48 orang/hari akan minta juga, imel penuh dan "Information Hazard" buat otak yg juga ikut berpuasa. Jadi aturan-nya, jika ada yg minta lagi maka Pak Juna Ed yg harus memberi, silahkan hubungi Pak  Juna Ed, kemudian orang tersebut harus bertanggung jawab untuk orang lain yg juga minta setelah dia. Begitu seterusnya. 

Se7 kah?

Tanggapan 6 - Dirman Artib

Rekan-rekan, mari berbagi ilmu yg bermanfaat lewat pembagian koleksi standard gratis di bulan Ramadhan.

Sekalian yang perlu copy Technical Safety for Offshore Installation for Production oil&gas bergaya NORSOK standard (S-001, Edisi 4), ilmu & engetahuan-pengetahuan standard termasuk di dalamnya sbb:

Management Technical Safety

Layout

Structural Integrity

Containment

Open Drain

Process Safety

Emergency Shutdown

Blowdown and Flare/Vent

Gas detection

Fire detection

Ignition Source Control

Human Machine Interface

HVAC

Alarm and Emergency Communication

Emergency Power and Lighting

Passive Fire Protection

Fire Fighting System

Escape and Evacuation

Rescue and Safety Equipment

Marine System and Position Keeping

Ship Collision Barrier

Seperti biasa, saya hanya akan memberi copy kepada orang pertama, maka orang pertama tsb. akan bertanggung jawab kepada orang berikutnya. Silahkan diatur distribusi berikutnya.

Jadi, siapa yg mau volunteer jadi orang pertama silahkan japri ke saya.

Tanggapan 7 - Dirman Artib

Satu lagi Standard Technical Safety for Offshore Installation for Production oil&gas bergaya NORSOK standard (S-001, Edisi 4) telah saya kirim kepada Pak Juna Ed junaed97@yahoo.com

Silahkan menghubungi kawan kita tsb.

Tanggapan 8 - Maurina

Untuk yang Norsok, bisa juga download dari websitenya:

http://www.standard.no/en/Sectors/Petroleum/NORSOK-Standard-Categories/S-Safety-SHE/S-0011/

Utk Norway, ada juga guideline utk implementasi IEC 61511/61508 yaitu OLF-GL-070. Bisa juga didownload dari website:

http://www.norskoljeoggass.no/en/Publica/Guidelines-old/Helse-arbeidsmiljo-og-sikkerhetHealth-working-environment-safety/Teknisk-sikkerhet/070/?guidelineLanguage=1

Comments

  1. Saya juga mau dunk pak diemail standardnya ke chandr4.k3@gmail.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

DOWNLOAD BUKU: THE TRUTH IS OUT THERE KARYA CAHYO HARDO

  Buku ini adalah kumpulan kisah pengalaman seorang pekerja lapangan di bidang Migas Ditujukan untuk kawan-kawan para pekerja lapangan dan para sarjana teknik yang baru bertugas sebagai Insinyur Proses di lapangan. Pengantar Penulis Saya masih teringat ketika lulus dari jurusan Teknik Kimia dan langsung berhadapan dengan dunia nyata (pabrik minyak dan gas) dan tergagap-gagap dalam menghadapi problem di lapangan yang menuntut persyaratan dari seorang insinyur proses dalam memahami suatu permasalahan dengan cepat, dan terkadang butuh kecerdikan – yang sanggup menjembatani antara teori pendidikan tinggi dan dunia nyata (=dunia kerja). Semakin lama bekerja di front line operation – dalam hal troubleshooting – semakin memperkaya kita dalam memahami permasalahan-permasalahan proses berikutnya. Menurut hemat saya, masalah-masalah troubleshooting proses di lapangan seringkali adalah masalah yang sederhana, namun terkadang menjadi ruwet karena tidak tahu harus dari mana memulainya. Hal tersebut

Apa itu HSE ?

HSE adalah singkatan dari Health, Safety, Environment. HSE merupakan salah satu bagian dari manajemen sebuah perusahaan. Ada manejemen keuangan, manajemen sdm, dan juga ada Manajemen HSE. Di perusahaan, manajemen HSE biasanya dipimpin oleh seorang manajer HSE, yang bertugas untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan seluruh program HSE. Program  HSE disesuaikan dengan tingkat resiko dari masing-masing bidang pekerjaan. Misal HSE Konstruksi akan beda dengan HSE Pertambangan dan akan beda pula dengan HSE Migas . Pembahasan - Administrator Migas Bermula dari pertanyaan Sdr. Andri Jaswin (non-member) kepada Administrator Milis mengenai HSE. Saya jawab secara singkat kemudian di-cc-kan ke Moderator KBK HSE dan QMS untuk penjelasan yang lebih detail. Karena yang menjawab via japri adalah Moderator KBK, maka tentu sayang kalau dilewatkan oleh anggota milis semuanya. Untuk itu saya forward ke Milis Migas Indonesia. Selain itu, keanggotaan Sdr. Andry telah saya setujui sehingga disk

Leak Off Test

Prinsipnya LOT (leak off test) dilakukan untuk menentukan tekanan dimana formasi mulai rekah. Tujuannya: 1. Menentukan MASP (Max. Allowable Surface Pressure). Yaitu batasan max surface pressure yg boleh kita terapkan selama drilling operation, tanpa mengakibatkan formasi rekah (fracture). 2. Dengan mengetahui MASP, berarti juga kita bisa mengetahui Max. mud weight yg boleh kita terapkan selama drilling operation, tanpa mengakibatkan formasi rekah (fracture). 3. Menentukan Kick Tolerance. Yaitu maximum kick size yg masih bisa kita tolerir untuk dihandle. Parameter ini nantinya juga berperan untuk menentukan depth casing shoe yang aman dari sudut pandang well control issue. 4. Mengecek kualitas sealing antara cement dengan casing Tanya - BGP HSESupv. BGP.HSESupv@petrochina Dear all Saat masih di rig dulu saya sering mendengar istilah leak off test. dimana step2nya kira kira sebagai berikut 1. Cementing Job 2. TSK ,masuk string dan bor kurang lebih 3 meter dibawah shoe. 3. dilakukan