Skip to main content

Relief Valve Designation

Pertanyaan pertama yang harus diajukan sebelum kita melakukan perhitungan PSV adalah, do we really need that PSV or just nice to have? Siapa tahu, meniru si Mas Alvin, berdasarkan overpressure scenario, si PSV ini bisa dieliminasi karena sudah bisa diwakili oleh PSV di upstream atau downstream system tsb. consideration tentunya saja harus ada, misalnya resiko ketika akan maintenance, satu train proses harus shutdown. Misalnya, karena keberadaan PSV ini disinyalir karena penambahan unit atau module proses yang baru, maka konsekuensi penghilangannya mengakibatkan manual valve yang ada harus di lock open (iya kalau ada fasilitasnya di lapangan???)


Tanya - Nova Kurniawan

Dear Rekan2,

Saya ingin bertanya tentang pressure relief valve....
Ketika sudah ditemukan orifice area dan orifice designationya.
Bagaimana untuk menentukan valve body sizenya?

Pada tabel Relief Valve Designation (dr GPSA) kok sptinya ada beberapa kemungkinan body size utk satu orifice area dan orifice designation tertentu.

Kalo pada software instrucal, umumnya ukuran body sizenya langsung  keluar juga pas sizing misal 1D2 dsb.
 Sekian trimakasih, mohon maaf bila kurang berkenan...


Tanggapan 1 - Alvin Alfiyansyah


Wah, menarik...basic sekali pertanyaannya.

 
Apa yang punya pertanyaan belum baca API-521 or API-520 yach ? Mungkin sebaiknya kedua basic RP itu disimak sebagai tambahan dari GPSA, lalu nanti baru ke artikel dan guideline2 yang ada. Di www.iips-online.com juga ada tulisan menarik dari Weby yang bisa anda lihat.

 Harusnya juga sebelum relief valves dapat di-sizing, kan pastinya berbagai kondisi skenario seperti block outlet, fire case, electricity failure, dll. bisa diperkirakan terlebih dulu.

Setelah itu sizing kan baru bisa dilakukan dengan terlebih dahulu menghitung (seperti contohnya utk fire case pada vessel) : wetted surface area, latent heat, fire loadnya.

Lalu setelah didapat angka-angka yang dibutuhkan pastilah dapat menghitung orifice areanya dimana tentu body valve (or what i called as inlet/outlet line) dapat langsung dihitung juga, dengan catatan pasti inlet/outlet line sizenya dapat saja berbeda walaupun masih dalam satu designation seperti dalam GPSA itu (ex : D, E, F, G,....dll.), kan jelas disitu ada berbagai faktor yang mempengaruhi sizing relief valve tersebut jadi bisa mengakibatkan perbedaan line size...
 
Semoga short message ini membantu...


Tanggapan 2 - Nugroho.Wibisono@conocophillips


(dari milis sebelah, lupa ga kekirim ke milis Migas euy)

Halo semua,

Mudah-mudahan dengan kekuatan Allah yang berikan, saya akan mencoba menjawabnya...

Mas Nova,
Menurut saya, GPSA bagus sebagai panduan, tetapi mungkin terlalu ringkas dalam hal ini.

Mungkin yang dimaksud mas Nova dalam tabel GPSA itu tabel Fig.5-7 (Section 5, Relief System) hal 5-7 ya? Coba ditengok ke API Standard 526, "Flanged Steel Pressure Relief Valves". Disana ada hubungan antara besarnya inlet-outlet dengan ANSI Flange Class (150, 300, 600, dst).

Jadi besarnya inlet-outlet PSV itu ditentukan juga dengan Rating dari pipa yang mau disambungkan (koneksi dari pressurized system/vessel dan koneksi ke flare header misalnya).

Demikian dari saya, jika ada kesalahan, mohon maaf dan mohon
koreksinya...


Tanggapan 3 - Nugroho.Wibisono@conocophillips


Halo semua,
Wah sori, maksute saya, dengan orifice designation yang sama, ukuran
inlet-outlet dari PSV bisa berbeda karena flange rating yang berbeda (see API-526 for further reference).

Tapi harus hati-hati juga, kalo perlu konsultasi ke vendor masalah ukuran dari inlet-outlet, ga semua vendor bisa menyediakan ukuran yg dikasih Instrucalc.

Terima kasih.



Tanggapan 4 - cahyo@migas-indonesia


Cuma sekedar sharing.
Sedikit menarik keluar arah diskusi agar terasa lebih menarik.

Pertanyaan pertama yang harus diajukan sebelum kita melakukan perhitungan PSV adalah, do we really need that PSV or just nice to have? Siapa tahu, meniru si Mas Alvin, berdasarkan overpressure scenario, si PSV ini bisa dieliminasi karena sudah bisa diwakili oleh PSV di upstream atau downstream system tsb. consideration tentunya saja harus ada, misalnya resiko ketika akan maintenance, satu train proses harus shutdown. Misalnya, karena keberadaan PSV ini disinyalir karena penambahan unit atau module proses yang baru, maka konsekuensi penghilangannya mengakibatkan manual valve yang ada harus di lock open (iya kalau ada fasilitasnya di lapangan???)

Jika luas area orifice PSV sudah terpilih, dan ternyata pilihannya antara dua ukuran orifice PSV, manakah yang harus dipilih? Secara short cut, mungkin langsung dipilih ke orifice yang lebih besar. Tetapi ada satu yang harus diperhatikan mengikuti hukum kekekalan massa di sekitar PSV ketika popping, yaitu apakah ternyata laju alir fluida keluaran PSV tersebut sangat besar relatif terhadap inputnya? Jika iya, resiko chaterring adalah "bayarannya" dan ini bisa diakali dengan cara melakukan re-visit sizing PSV dengan concept stagerring...See API-xxx. Masalah "serupa tapi tak sama" adalah jika menyangkut pada inlet hilang tekan , yang katanya jika melebihi 3% dari setting point, maka balik lagi, taruhannya bisa chatter....

Sudahkah?
Rasanya belum....Pengetahuan termodinamika sangat dibutuhkan, khususnya ttg efek joule thompson (meskipun pada realitanya, yang dilakukan adalah me-run proses simulator, seperti hysys). Ini berlaku terutama pada setting2 PSV tinggi. Jika tidak, material carbon steel bisa tidak tahan terhadap suhu rendah keluaran PSV tersebut...dan bocorlah flangesnya.....safety issue. Material paduan logam (alloy) biasanya dipilih untuk kasus ini...Khusus untuk kasus reduksi tekanan gas via PSV untuk gas2 yang mengikuti kaidah J-T effek yang "malah memanas" setelah di let-down tekanannya, kenaikan temperatur setelah popping up perlu dicermati lebih jauh karena biasanya kenaikan temperatur akan men-derating kekuatan dari flanges. Contohnya pada plant yang berhubungan dengan hidrogen...

Katakanlah sudah ketemu disain inlet outletnya, yang umumnya inlet diamaternya-nya mesti lebih kecil dari outletnya (pada fluid gas, fenomena ini "setara berkebalikan" dengan diameter inlet/outlet compressor yang terkait tentunya dg compressibilitas gas). Pada suatu kasus tertentu, outlet dari PSV tetap harus dimodifikasi (diperbesar) guna mengejar "pengecilan" backpressure di outlet (entah backpressure itu karena superimposed atau karena aliran fluida itu sendiri). Kasus2 ini mungkin patut dicermati khusus untuk PSV2 yang sangat sensitif dari sisi kapasitasnya terhadap backpressure, misalnya jenis konventional

(Weby pernah membahasnya di salah satu tulisannya di majalah IIPS).

Dan lain sebagainya...

Jadi menurut saya, perancangan PSV, selain melihat induk semangnya dulu yaitu overpressure protection scenario, juga harus awas terhadap efek yang ditimbulkannya, sehingga pengetahuan ttg suatu hal yang terkait, misalnya neraca massa atau ilmu termodinamika menjadi hal wajib yang harus diketahui...

Merancang PSV mungkin adalah masalah yang basic, tetapi tidaklah sesimpel seperti kelihatannya...karena safety adalah taruhannya. Dan jika coba2 short-cut, saya khawatir, someday akan kecolongan. Dan maaf, saya banyak melihat ini dilakukan oleh rekan dari instrument engineering yang memang authorise untuk men-desain PSV beserta data sheet-nya. Orang proses, biasanya hanya memberikan data inputnya...Dan kami orang produksi melihat hasil nyatanya di lapangan......the truth is out there my friend....Jadi... berhati-hatilah!

Tiada maksud untuk menggurui.

Comments

Popular posts from this blog

DOWNLOAD BUKU: THE TRUTH IS OUT THERE KARYA CAHYO HARDO

  Buku ini adalah kumpulan kisah pengalaman seorang pekerja lapangan di bidang Migas Ditujukan untuk kawan-kawan para pekerja lapangan dan para sarjana teknik yang baru bertugas sebagai Insinyur Proses di lapangan. Pengantar Penulis Saya masih teringat ketika lulus dari jurusan Teknik Kimia dan langsung berhadapan dengan dunia nyata (pabrik minyak dan gas) dan tergagap-gagap dalam menghadapi problem di lapangan yang menuntut persyaratan dari seorang insinyur proses dalam memahami suatu permasalahan dengan cepat, dan terkadang butuh kecerdikan – yang sanggup menjembatani antara teori pendidikan tinggi dan dunia nyata (=dunia kerja). Semakin lama bekerja di front line operation – dalam hal troubleshooting – semakin memperkaya kita dalam memahami permasalahan-permasalahan proses berikutnya. Menurut hemat saya, masalah-masalah troubleshooting proses di lapangan seringkali adalah masalah yang sederhana, namun terkadang menjadi ruwet karena tidak tahu harus dari mana memulainya. Hal tersebut

[Lowongan Kerja] QA System Coordinator, Pipe Yard Coordinator, Customer Assistant Coordinator

With over 30 years' experience, Air Energi are the premier supplier of trusted expertise to the oil and gas industry. Headquartered in Manchester UK, Air Energi has regional hubs in Houston, Doha, Singapore and Brisbane. We have offices in 35 locations worldwide, experience of supply for 50 countries worldwide, and through our company values: Safe, knowledgeable, innovative, passionate, inclusive, and pragmatism, WE DELIVER, each and every time. At the moment we are supporting a multinational OCTG processing operation in seeking of below positions: 1.       QA System Coordinator Coordinates Quality System development in plant, directing the implementation of specifications and quality norms. Administers complaints regarding non-conformities and provides quality process information in support of decision making. Develops the necessary procedures, instructions and specifications to ensure Quality System conformity. Coordinates and organizes the execution of interna

Efek korosi dari pembakaran NH3 + H2S di Furnace

Complete combustion H2S membutuhkan temperatur antara 625 s/d 1650 degC tergantung komposisi acid gas.  Namun, temperatur minimum untuk efektivitas operasi adalah 925 degC.  Dibawah temperatur ini biasanya  stabilitas flame tidak bagus dan sering muncul free O2 di flue gas.  Untuk kasus Pak Novriandi, free O2 di flue gas harusnya gak masalah karena akan langsung terbuang melalui stack (berbeda jika kondisi ini terjadi di unit pengolah acid gas yang akan menyebabkan korosi di waste heat boiler); namun, dengan temperatur furnace yang Pak Novriandi punya sebesar 843 degC, kemungkinan akan menyebabkan flame menjadi tidak stabil. Tanya - Novriandi   Ysh, Bpk & Rekan Migas Indonesia Kami memiliki equipment furnace dengan servicenya adalah pemanas process, Furnace tersebuttipe vertical tube multi coil dengan material tube inlet A335 P9 dan tube oult A312 TP316. dengan fuel sesuai design adalah kombinasi fuel oil dan fuel gas. Pada kasus tertentu di salah satu unit untuk mengolah dan