Skip to main content

Jejak Minyak di Layar Ponsel

Tangki penampungan minyak Pertamina di Lawe-lawe, Kalimantan Timur, kini bisa dipantau dengan mengirimkan pesan pendek. Agar pencurian minyak tak terulang. HANYA ada diam di ruang kendali itu. Wajah serius Supriyono seperti ikut mengendap dalam kesunyian di ruangan itu. Matanya hampir tak berkedip, memandangi layar komputer. Dalam diam, pegawai Pertamina itu menanti sepucuk kabar dari komputernya, yang mungkin akan menjadi sejarah baru di Lawe-lawe. Beberapa teman Supriyono juga ikut merubung computer itu.


Pembahasan - Swastioko Budhi Suryanto

Selamat buat Bapak Parsaulian Siregar dan kawan-kawan yang berhasil menciptakan perangkat untuk memonitor Automatic Tank Gauging secara remote melalui HP. Beliau juga anggota Milis Migas Indonesia, jadi kalau ada yang ingin didiskusikan secara teknis bisa melalui milis. Ucapan selamat dapat via japri ke alamat email pak Saul psiregar@tf.itb.ac.id.

--
Tangki penampungan minyak Pertamina di Lawe-lawe, Kalimantan Timur, kini bisa dipantau dengan mengirimkan pesan pendek. Agar pencurian minyak tak terulang. HANYA ada diam di ruang kendali itu. Wajah serius Supriyono seperti ikut mengendap dalam kesunyian di ruangan itu. Matanya hampir tak berkedip, memandangi layar komputer. Dalam diam, pegawai Pertamina itu menanti sepucuk kabar dari komputernya, yang mungkin akan menjadi sejarah baru di Lawe-lawe. Beberapa teman Supriyono juga ikut merubung computer itu.

Tiba-tiba keseriusan pria 40 tahun itu lumer. Eureka! Layar komputernya memberondongnya dengan sejumlah data yang telah ditunggu-tunggu: muncul tinggi permukaan minyak mentah, angka suhu minyak juga tersembul. Segepok data lainnya menyeret matanya hingga ke ujung angka yang terakhir. Semuanya lancar. "Ini hebat," katanya dengan raut muka berbinar-binar, secerah suasana pagi itu di Lawe-lawe, Kalimantan Timur. Ruangan senyap itu kini penuh dengan tepuk tangan menyambut sistem pemantau aliran minyak bikinan para insinyur Institut Teknologi Bandung.

Hanya lewat layar komputer, pria tanpa kerut-kerut di dahi itu langsung tahu seberapa besar aliran minyak ke dalam tangki. Semuanya diketahui lewat komputer, tak perlu datang ke tangki. Bahkan, bila fungsi mesin pemantau dihidupkan semua, mereka bisa membedakan antara minyak mentah dan minyak bodong alias air. Tapi sisa-sisa penasaran masih mengendap di otak
Supriyono.

Maka Kepala Instrumentasi Pemeliharaan IV, Jasa Pemeliharaan Kilang, di Unit
Pengolahan (UP) V Pertamina Balikpapan itu segera menjajal system pemantauan dengan mengirim sebuah pesan pendek (SMS). Hanya dalam hitungan detik, pesan balasan pun muncul di layar ponselnya. SMS itu berisi data-data tentang suhu, volume, dan tinggi permukaan minyak dalam tangki. Senyum Supriyono mengembang. Rapor buruk tentang terminal penampungan minyak di Lawe-lawe bisa segera berlalu.

Tiga bulan lalu Lawe-lawe adalah wilayah dengan wajah muram. Sebuah berita menggedor daerah yang berserambi laut tenang itu. Isi berita itu: di tengah
laut Lawe-lawe, 12.600 ton minyak mentah Pertamina dicuri. Agar tak ketahuan, sang maling mengisi tangki itu dengan air laut! Ini bukan jumlah yang kecil - kalau dimasukkan ke truk tangki butuh lebih dari 2.500 truk!.

Pencurian itu sulit terjadi dengan sistem pemantau yang baru dipasang ITB itu. Ke mana pun bos Pertamina pergi melancong, dia bisa memantau dari ponselnya. Sambil memenuhi keranjang belanja di pertokoan mewah Orchard Roads di Singapura atau sedang mandi matahari di Ubud, Bali, mereka bias "meneropong" aliran minyak itu.

Pencurian minyak itu bisa terjadi karena saat itu mesin pemantau alias ATG (automatic tank gauging) yang ada di sana tak lagi berfungsi dengan baik.
Saat kasus itu mencuat, Supriyono seperti tersengat listrik. Ia kesal karena sejak dua tahun lalu dia sudah berteriak-teriak agar sistem pemantau itu diperbaiki.

ATG adalah mesin pemantau yang jeli. Alat yang dipasang di atas tangki penampungan minyak itu berfungsi mengukur suhu dan ketinggian minyak di dalam tangki hingga ketelitian 1 milimeter. Dia juga bisa membedakan mana minyak, mana air, dengan menghitung berat jenis cairan di dalam tangki.

Untuk mengukur ketinggian permukaan minyak, misalnya, mesin ini memakai bandul. Bandul itu diulur ke dalam tangki oleh sebuah motor. Sensor gaya tegangan tali yang ada pada alat ini akan memberi tahu jika posisi bandul sudah menyentuh permukaan minyak. Naik-turunnya tinggi permukaan minyak akan diikuti oleh bandul. Sayangnya, peranti lunak bawaan alat ini rusak sejak 2003. "Tapi usul perbaikan sistem pemantauan itu tak juga terealisasi, hingga kasus Lawe-lawe mencuat," kata Supriyono.

Untunglah, dewa penyelamat dari ITB datang. Sekelompok doktor dan insinyur dari Center for Instrumentation Technology and Automation (CITA) ITB menyodorkan sistem pemantau baru. "Saat itu, kami diberi waktu satu bulan untuk membenahi," kata Dr Ing Parsaulian Siregar, ketua badan riset itu.

Tim ITB itu mulanya terkejut ketika melihat kondisi sistem pemantau di Lawe-lawe. "Ada beberapa kemampuan yang tak pernah dioperasikan dan akhirnya alat seperti tak berfungsi," kata dosen Fisika Teknik ITB itu. Contohnya kemampuan untuk mengukur tinggi air laut dan berat jenis minyak. Dua kemampuan itu tak pernah diaktifkan sejak pertama kali ATG dipasang.
Padahal, kemampuan itu semestinya dapat mengendus keberadaan air laut di dalam tangki, seperti yang disinyalir dalam kasus pencurian minyak di Lawe-lawe.

Tak sampai satu minggu di Lawe-lawe, tim ITB yang dipimpin Parsaulian kembali ke Bandung untuk mengembangkan peranti lunak di laboratorium.
Pengembangan peranti lunak ini dipimpin Edwin Yudayana, 25 tahun, alumni Fisika Teknik ITB. Berbekal bahasa pemrograman yang dimilikinya, Edwin mengembangkan peranti lunak yang diberi nama NetRTG (Network Remote Tank Gauging).

Ada empat modul dalam peranti itu, yakni pencatat database di server, system pemantau di mesin, pengirim data ke layar komputer, serta sistem pemberi peringatan di ponsel. Agar data pengukuran mesin pemantau bisa dibaca komputer, tim ITB juga membuat sistem yang menjadi jembatan mesin dankomputer. Sang jembatan - bahasa ilmiahnya adalah interface - itu adalah V1
Linedriver. Dengan alat ini, data dari mesin pemantau diterjemahkan ke bahasa komputer.

Adalah Jimmy Merari dan Jusan Qithri yang mengembangkan V1 Linedriver. Alat ini dikembangkan dari 2002 hingga 2004. "Jadi, sempat satu tahun Teronggok di laboratorium, nganggur tak terpakai," kata Jimmy.

Saat kabar muram Lawe-lawe mencuat, otak Jimmy pun bekerja. "Inilah saatnya alatnya diuji coba." Dan berhasil. Kini, dengan mengirim SMS, bos-bos Pertamina tak bisa lagi "dikadali" anak buahnya. Sistem ini di-sewa Pertamina selama enam bulan dengan harga miring, Rp 10,5 juta per bulan.
"Kalau beli sistem pemantauan dari luar negeri, mungkin habis ratusan juta rupiah," ujar Parsaulian.

Lawe-lawe berupaya menulis sejarah baru: merekam jejak minyak dalam ponsel.


Tanggapan 1 - Joko Arisanto


Hebat, salut, deh.

Tetapi masih ada yang ngganjel.

Bagaimana dengan security-nya?
Bagaimana jika ada hard core access ke ATG di tangki minyaknya?
-misal pasang simulator yang mengenerate data mirip ATG atau   V1 LineDriver-nya?

Namun setidaknya para pencuri sudah dibuat puyeng.
Dan jika ada yang mau ngakali bisa dilacak jejaknya.

BTW, ada rencana buat publish V1LineDriver ini?


Tanggapan 2 - Waskita Indrasutanta

System seperti sudah bisa dilakukan dengan mudah dan mempunyai security yang baik dengan menggunakan MobileHMI (dengan technology .net, WAP, dsb) yang bisa interaksi langsung dari Mobile device kita ke Plant, Microsoft Access, MS SQL, Excel and other databases kita. Selain mobile security (MAC Address, Access Code, dsb), MobileHMI Server mempunyai lagi security management dengan login dan access level, dst. Dengan security system yang berlapis-lapis, kemungkinan hacker menembus system kita diperkecil.

Informasi lebih lanjut bisa dilihat di http://www.mobilehmi.com/. Kalau ada yang berminat untuk implementasi, bisa menghubungi kami melalui japri.

Comments

Popular posts from this blog

DOWNLOAD BUKU: THE TRUTH IS OUT THERE KARYA CAHYO HARDO

  Buku ini adalah kumpulan kisah pengalaman seorang pekerja lapangan di bidang Migas Ditujukan untuk kawan-kawan para pekerja lapangan dan para sarjana teknik yang baru bertugas sebagai Insinyur Proses di lapangan. Pengantar Penulis Saya masih teringat ketika lulus dari jurusan Teknik Kimia dan langsung berhadapan dengan dunia nyata (pabrik minyak dan gas) dan tergagap-gagap dalam menghadapi problem di lapangan yang menuntut persyaratan dari seorang insinyur proses dalam memahami suatu permasalahan dengan cepat, dan terkadang butuh kecerdikan – yang sanggup menjembatani antara teori pendidikan tinggi dan dunia nyata (=dunia kerja). Semakin lama bekerja di front line operation – dalam hal troubleshooting – semakin memperkaya kita dalam memahami permasalahan-permasalahan proses berikutnya. Menurut hemat saya, masalah-masalah troubleshooting proses di lapangan seringkali adalah masalah yang sederhana, namun terkadang menjadi ruwet karena tidak tahu harus dari mana memulainya. Hal tersebut

[Lowongan Kerja] QA System Coordinator, Pipe Yard Coordinator, Customer Assistant Coordinator

With over 30 years' experience, Air Energi are the premier supplier of trusted expertise to the oil and gas industry. Headquartered in Manchester UK, Air Energi has regional hubs in Houston, Doha, Singapore and Brisbane. We have offices in 35 locations worldwide, experience of supply for 50 countries worldwide, and through our company values: Safe, knowledgeable, innovative, passionate, inclusive, and pragmatism, WE DELIVER, each and every time. At the moment we are supporting a multinational OCTG processing operation in seeking of below positions: 1.       QA System Coordinator Coordinates Quality System development in plant, directing the implementation of specifications and quality norms. Administers complaints regarding non-conformities and provides quality process information in support of decision making. Develops the necessary procedures, instructions and specifications to ensure Quality System conformity. Coordinates and organizes the execution of interna

Efek korosi dari pembakaran NH3 + H2S di Furnace

Complete combustion H2S membutuhkan temperatur antara 625 s/d 1650 degC tergantung komposisi acid gas.  Namun, temperatur minimum untuk efektivitas operasi adalah 925 degC.  Dibawah temperatur ini biasanya  stabilitas flame tidak bagus dan sering muncul free O2 di flue gas.  Untuk kasus Pak Novriandi, free O2 di flue gas harusnya gak masalah karena akan langsung terbuang melalui stack (berbeda jika kondisi ini terjadi di unit pengolah acid gas yang akan menyebabkan korosi di waste heat boiler); namun, dengan temperatur furnace yang Pak Novriandi punya sebesar 843 degC, kemungkinan akan menyebabkan flame menjadi tidak stabil. Tanya - Novriandi   Ysh, Bpk & Rekan Migas Indonesia Kami memiliki equipment furnace dengan servicenya adalah pemanas process, Furnace tersebuttipe vertical tube multi coil dengan material tube inlet A335 P9 dan tube oult A312 TP316. dengan fuel sesuai design adalah kombinasi fuel oil dan fuel gas. Pada kasus tertentu di salah satu unit untuk mengolah dan