Thursday, May 31, 2012

Technical Bid Evaluation Report

"Technical Bid Evaluation atau Technical Bid Analysis, biasanya berisi  'perbandingan' antara persyaratan teknis untuk suatu pekerjaan (technical  requirement) dengan apa-apa yang diajukan oleh vendor/subcontractor  (proposed by vendor/subcontractor). Biasanya disusun dalam bentuk tabel,  sehingga kita bisa dengan mudah membaca item of concern sesuai dengan  persyaratan, yang diajukan vendor/subcont dan keputusan/response dari kita  (misal terhadap adanya deviasi).
Dari tabulasi tersebut kita bisa membuat rekomendasi ke management atau  keputusan vendor/subcont mana yang memenuhi persyaratan teknis. Dari  beberapa vendor/subcont yang ada, biasanya kita bisa membuat ranking,  mulai dari vendor/subcont yang paling sesuai dengan persyaratan sampai  dengan yang kurang/tidak sesuai."



Tanya - hendra yulianto


Dear rekan2 Migas,

Saya lagi belajar supply chain management khususnya masalah procurement dan contract administration. Saya sering menemui istilah "Technical Bid Evaluation Report". Mohon bantuannya untuk diberi pencerahan tentang hal tersebut dan mungkin juga contoh
formatnya. Maaf satu lagi mungkin untuk istilah2 lain
di procurement dan contract administration bisa
ditambahkan untuk penjelasannya.
Trims sebelumnya.


Tanggapan 1 - berson marabona


Dear Hendra,

Technical Bid Evaluation itu yang prepare bagian Engineering. Mereka membuat tabulasi / komparasi penawaran2 dari vendor dari segi teknikal.
Setelah dilakukan technical clarification, Engineering membuat tabulasinya dan memutuskan atau me-ranking vendor2 mana aja yg technical offer nya acceptable. Nah nanti bersama sama dengan commercial bid evaluation yg buyer buat , di compile dan orang Procurement bisa follow up lebih lanjut dengan final negotiation dan juga mengajukan recommended vendor ke pihak manajemen.

Tanggapan 2 - Arif.Wibisono@ikpt


Mas Hendra, saya coba bantu sependek pengetahuan saya.

Technical Bid Evaluation atau Technical Bid Analysis, biasanya berisi  'perbandingan' antara persyaratan teknis untuk suatu pekerjaan (technical  requirement) dengan apa-apa yang diajukan oleh vendor/subcontractor  (proposed by vendor/subcontractor). Biasanya disusun dalam bentuk tabel,  sehingga kita bisa dengan mudah membaca item of concern sesuai dengan  persyaratan, yang diajukan vendor/subcont dan keputusan/response dari kita  (misal terhadap adanya deviasi).
Dari tabulasi tersebut kita bisa membuat rekomendasi ke management atau  keputusan vendor/subcont mana yang memenuhi persyaratan teknis. Dari  beberapa vendor/subcont yang ada, biasanya kita bisa membuat ranking,  mulai dari vendor/subcont yang paling sesuai dengan persyaratan sampai  dengan yang kurang/tidak sesuai.

Misal, kita mau beli pipa, kemudian di spek client mengatakan carbon  content-nya max. 0.10 %, dimensi 11.8-12.0m, kemudian ada vendor A yang  mengajukan carbon content sebesar 0.09% dan panjang pipa 12.0m sedangkan  vendor B mengajukan material dengan carbon content 0.11% dan panjang  11.5m, sehingga kita bisa tabulasikan kurang lebih seperti:

| No | Description | Requirement | Vendor A | Response
| Vendor B | Response | Remarks|
1 Carbont content max. 0.10% 0.09% OK 0.11%
Not OK
2 Length per joint 11.8-12.0m 12.0m OK
11.5m Not OK

Dari tabel tersebut jelas terlihat bahwa vendor A memenuhi persyaratan,  sedangkan vendor B tidak. Ini contoh sederhana saja, dalam kenyataannya  bisa menjadi kompleks karena banyak hal yang harus kita jadikan  persyaratan.

Biasanya technical bid evaluation dibaca bersama dengan comercial bid  evaluation, sehingga nantinya diharapkan bisa didapat vendor/subcont yang  dapat memenuhi persyaratan teknis dan harga yang dapat dipertanggung  jawabkan.

Demikian, semoga membantu & cmiiw.



Tanggapan 3 - Muhammad Redjoso


Pak Hendra, mau coba bantu jawab,
saya juga sedang belajar mengenai contrak procurement, jadi CMIIW..mohon koreksinya..

yang saya tahu, biasanya "technical bid evaluation report" adalah laporan yang dikeluarkan procurement dan user (line manager) kepada peserta/bidder terhadap hasil evaluasi teknis mereka. isi laporannya bervariasi tergantung dari apa yang diminta user dalam MRS pada awal proses lelang, biasanya berisi nilai atau pernyataan bahwa bidder lulus kualifikasi teknis yang ditentukan user. untuk pekerjaan high risk, biasanya user menambahkan HSE requirement dalam technical bid, yang akan dievaluasi in-line dengan hasil evaluasi teknis lainnya.



Tanggapan 4 - pra setyo


Mas Hendra,

Salah satu product yang dihasilkan oleh bagian engineering salah satunya Technical Bid Evaluation (TBE) Report selain itu juga ada Specification, Data Sheet, Requisition, dan Drawing. Untuk TBE Report di siapkan oleh bagian engineering sedangkan engineering membuat tabulation sheet yang nantinya oleh procurement di attach bersama dengan requisition, data sheet, dan specs sebagai document inquiry package. Untuk bagian engineering membuat analisateknis berisi semua technical requirement dalam membuat suatu requirement misal: Operating Condition, Performance, Construction/Design, Scope of supply, Spare part list, Applicable document, deviation, experience list, dan lainnya.


Tanggapan 5 - Dana Siregar


Dear mas Endra,

Sedikit sharing dan urun rembug. Setahu saya Technical evaluation report ini adalah

1. Dikenal juga dengan nama Bid Tabulation, karena berbentuk tabulasi.

2. Dikeluarkan oleh Bid Committee (apabila melalui tender) atau dikeluarkan oleh Procurement (apabila tidak melaui tender)

3. Isinya adalah perbandingan data-data yang dimiliki oleh vendor/supplier atas jenis product/service yang diminta oleh user

4. Didalam Bid Tab ini sekaligus diberikan rekomendasi vendor/supplier untuk dipilih oleh User.

5. Bid Tab ditandatangani oleh Chief of Tender Committee.


Tanggapan 6 - Samidi


Mas Hendra and Mas Arif,

Apa yang di sampaikan oleh Mas Arif sudah memebrikan gambaran yg jelas mengenai Technical Bid evaluation.

Pada prinsipnya ketika melakukan review/evauation dari beberapa supplier terhadap suatu tender biasaya akan kita evaluasi secara technical dulu. Jikalau lolos baru masuk ke babak komersial.

Makanya pada tender yg besar suppliers di haruskan memasukan dua kali bid. Technical bid lalu comercial bid. Tujuannya agar ketika mereview reviewer/evaluator lebih fair dalam melihat kemampuan supplier tanpa dipengaruhi oleh harga.

Kebetulan beberapa minggu ini, saya lagi menyusun point-point tentang Contracting & Negotiation suatu paper buat pengantar diskusi SCM . Tapi belum selesai juga. Mudah-mudahan nanti bisa kita diskusikan lebih banyak.


Tangapan 7 - Arif.Wibisono@ikpt


Iya mas Samidi, cuma mungkin terminologi yang saya pake kurang luas karena  cuma 'vendor' atau 'subcontractor'. Maklum kerjanya di main contractor, jadi yang terpatri di otak ya itu :)
Kalo di pihak owner/client, mungkin mereka gunakan untuk mencari  kontraktor, konsultan, supplier dll.



Tanggapan 8 - Egi Al Ghifari


Saya kira istilah "bid" memang sudah tepat untuk vendor/supplier/sub-contractor.
Untuk konsultansi, evaluasi teknis yang dilakukan adalah "technical proposal evaluation" dimana dokumen inquirinya adalah "request for proposal", minimum teridiri dari "terms of reference" dan "conditions of contract".
Untuk kontraktor, dokumen inquirinya adalah "invitation for tender", minimum terdiri dari BOQ, Specs, drawings dan "conditions of contracts". Terakhir untuk supplier/vendor/sub-cont, dokumen inquirinya adalah "request for quotation", minimum terdiri dari "specs" dan "schedule of equipment", evaluasinya adalah technical bid evaluation.

Mohon maaf kalau ada keasalahan,


Tanggapan 9 - harry alfiyan
 
Dear Mas Endra,

Juga sedikit menambahkan, dengan redaksi yang sedikit berbeda tp dengan maksud yang sama, beberapa perusahaan juga mengistilahkan dengan TBA or Technical Bid Analysis.
TBA = Technical Evaluation Report.

Mohon koreksi jika saya salah

Kabel Pengganti A-60 Class untuk Equipment Class 3 Sesuai Regulasi IMO

"Mau minta tolong nih, menginterpretasikan requirement dari IMO MSC Circ 645 para 3.51 ttg penggunaan kabel pada equipment class 3 (DP 3). Kalo yg saya pahami, untuk requirement routing kabel pada kompartemen yg berbeda u/ redundant system dapat digantikan dg penggunaan ducting untuk kabel kelas A60 jika routing pada kompartemen yg berbeda tidak dimungkinkan. Mungkin 2 opsi pertama ini dapat saya pahami. Terus, bagaimana dg statement yg menyatakan " except that represented by the cables themselves", apakah maksudnya di sini bahwa jika kedua opsi pertama di atas tidak memungkinkan karena alasan keterbatasan space, misalnya, apakah penggunaan type kabel yg setara dg A60 class dapat dilakukan ?"


Tanya - Pandhu Lakshana


Bapak/ Ibu MIGAS-ers,

Mau minta tolong nih, menginterpretasikan requirement dari IMO MSC Circ 645 para 3.51 ttg penggunaan kabel pada equipment class 3 (DP 3). Kalo yg saya pahami, untuk requirement routing kabel pada kompartemen yg berbeda u/ redundant system dapat digantikan dg penggunaan ducting untuk kabel kelas A60 jika routing pada kompartemen yg berbeda tidak dimungkinkan. Mungkin 2 opsi pertama ini dapat saya pahami.
Terus, bagaimana dg statement yg menyatakan " except that represented by the cables themselves", apakah maksudnya di sini bahwa jika kedua opsi pertama di atas tidak memungkinkan karena alasan keterbatasan space, misalnya, apakah penggunaan type kabel yg setara dg A60 class dapat dilakukan ?

Yg kedua, untuk statement "Cable connection boxes are not allowed in such ducts", apakah maksudnya kabel yg digunakan harus continues / tidak boleh ada terminasi ? atau ada yg lainnya ?

Berikut ini saya kutipkan para yg dimaksud

"3.5.1. For equipment class 3, cables for redundant equipment or systems should not be routed together through the same compartments. Where this is unavoidable such cables could run together in cable ducts of A-60 class, the termination of the ducts included, which are effectively protected from all fire hazards, except that represented by the cables themselves. Cable connection boxes are not allowed in such ducts"

Terima kasih atas masukannya.



Tanggapan 1 - Yuyus Uskara


Pak Pandhu,
Kalo masukan saya, Bapak konsultasi sama Class yang megang kapal dengan DP3 ini.

Soal interpretasinya terus terang gak ngerti :D

Anyway, interpretation itu bisa berlainan kalo masalah kaya ginian, mending duduk bareng sama kelas dan owner :)



Tanggapan 2 - El Mundo


Pak  Pandhu

Sblm ke Class (ABS ?) tolong baca lagi itu regulation..yg dimakudkan dgn "redundant equipment" (RE) itu apa.  Tujuan dr reg. ini, sebetulnya utk menjaga reability dan fungsi redundancy equipment tsb. kalau tidak apa gunanya DP3 notation?

Umumnya cable utk redundant dan esensial equipment menggunakan "intrinsically safe" type dan menurut rules harus dipisahkan dgn kabel biasa paling tidak 4 inch atau dirun dalam cabel tray/conduit tersendiri.

Utk DP3 persyaratanya pemisahan cabel utk RE itu lebih pertegas, yaitu harus dirun di kompartmen yg berbeda (route terpisah). (mungkin dulu2 surveyornya putus asa kasi tau harus dipisah tpi tdk pernah diikuti).   Seandainya tidak memungkinkan utk di route di kompartmen terpisah,, maka cable tadi harus dirun dalam counduit yg memenuhi A60 fire rating requirement, atau kable tadi terbuat/dilapis dgn A60 fire rating material, sehingga dapat di run side by side dgn cabel biasa.

jika A60 cable duct diadopsi, jelas tak bolh ada connection box dlm duct, karena akan men jerpodize A60 rating duct itu sendiri. Sebetulnya di bisa di atasi dgn menggunakan A60 connection box dngn opening di luar duct..tapi aneh kan ada duct yg begitu.. gi pula mahal se kalee..



Tanggapan 3 - Pandhu Lakshana


Trim's P' El & p' Yuyus,

RE-nya sudah jelas sih pak, antara owner, shipyard dan klas sudah sepakat ttg hal ini, makanya routing cable-nya ini pun difokuskan u/ hal2 yg berkaitan dg itu.

Kalo dari class-nya sih malahan ga' begitu masalah pak, yg penting sesuai dg regulasi/ rule mereka. Asal power management system dan semua equipment DP relatednya diatur sedemikian rupa hingga "no single fault, including fire or flood in 1 compartment" yg bisa berdampak kpd system redundancy-nya. Kalo saya punya "pemahaman yg benar" ttg hal ini, kan lebih mudah dan enak "ngomong" ke mereka. Tapi kalo punya sudut pandang yg beda, bisa ngga' selesai-selesai nanti urusannya.

Yg masalah itu ownernya, karena mereka sebenernya "maksa-in" bikin vessel yg sebenernya desainnya adalah DP-2 untuk dijadi'in DP-3. Makanya, opsi segregasi untuk pipe dan cable route menjadi hal yg "susah" untuk dilaksanakan mengingat keterbatasan space. Terus, mereka juga "ngotot" untuk tidak menggunakan A60 duct insulation juga. Makanya, kita mau coba cari jalan tengah dg opsi penggunaan kabel yg bisa melindungi dari fire hazard mungkin bisa diimplementasikan. Cuman masalahnya kami ragu apa interpretasi spt ini yg dimaui oleh IMO.

Kalo memang interpretasi dari hal ini bahwa kita bisa pake kabel yg setara dg A60 class, jika segregasi dan penerapan A60 duct untuk kabel tidak memungkinkan, berarti sederhana dong ya. Daripada cape2 mikirin routing dan masang A60 ducting, mending cari aja kabel yg punya kelas A60.

Cuman sekarang pertanyaan lagi nih (mungkin untuk rekan2 yg bergelut di bidang electrical marine, oil and gas) apa ada ya kabel yg setara dg A60 ?
Untuk redundant equipment yg paling umum itu kabel power dari diesel gen ke switchboard dan thruster, termasuk ke MCC thrusternya (untuk LV).

Oh iya, A60 class itu maksudnya bisa withstand dari fire hazard selama 60 menit gitu ya ?
Mohon pencerahannya.


Tanggapan 4 - Pandhu Lakshana


Dear All,

Melanjutkan masalah kabel A60 yg saya tanyakan kemarin, apakah yg dimaksud dg A60 fire rating protection itu spt yg saya nyatakan di bawah ini (bisa
withstand dari fire hazard selama 60 menit ?) Atau ada pengertian lain ?

Kemudian jika ada bapak/ Ibu yg punya link katalog (atau mungkin sekalian softkopi katalognya) ttg kabel yg punya rating spt ini, mohon diinfokan
juga.

Terima kasih atas masukannya.

Kontraktor FEED dan Detail Design

"Peraturan yang melarang Company yang mengerjakan FEED juga mengerjakan detail engineering adalah yang perlu ditinjau kembali. Saya nggak tahu apakah peraturan model ini hanya berlaku di Indonesia saja atau juga ada dibelahan dunia lain. Kalau di Malaysia, kelihatannya nggak berlaku itu. Dengan semakin meningkatnya harga minyak & gas, maka seluruh operator berlomba-lomba untuk memperoduksi minyak & gas secepat mungkin. Bukan saja itu, negara-negara yg memiliki blok-blok juga menginginkan agar para pemilik blok (PSC) segere berproduksi agar segera dapat memenuhi kebutuhan mereka terhadap energi."


Tanya - Dirman Artib


Rekan-rekan milis Yth.
Sebelum akhir pekan, saya punya pertanyaan yang sudah lama di benak saya, Mungkin rekan-rekan semua punya pengetahuan atau pengalaman, bahkan pernah terlibat sebelumnya, silahkan "share".

*Bagaimana cara BP Migas mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan peraturan tender yg tidak membolehkan kontraktor fase FEED untuk ikut tender fase Detail/Design, karena pada tingkat pelaksanaan bisa saja si KPS tidak mentenderkan pekerjaan FEED-nya, tetapi memberikan pekerjaan kepada sebuah kontraktor tertentu dengan tidak dibolehkan mencantumkan logo perusahaannya di atas dokumen-dokumen yang diproduksi. Seolah-olah kontraktor FEED tersamar tersebut tidak terlibat dalam FEED. Pad saat tender fase Detail Design, si kontraktor nakal ikut kompetisi yang mungkin saja sudah main mata pula dengan si KPS yang dalam hal ini juga nakal. Apakah BP Migas punya tool untuk mengawasi hal seperti ini ? Apakah ada sangsi bagi ke 2 anak nakal tsb ?*

* *
*Kasus ke 2, bagaimana dengan si personnel Engineer sendiri yang mem"prepare" dokumen-dokumen saat fase FEED, kemudian pada fase Detail Design pindah kerja menjadi karyawan kontraktor yg memenangkan tender pada fase Detail Design nya, berarti si Engineer tersebut melanjutkan hasil pekerjaannya yg dulu dalam mendetail kan Design-nya. Dalam perspective check and balance, maka ini tidak akan terjadi, karena dia akan meng"endorse" dulu hasil pekerjaan lamanya tsb.*
**
Sangat diperlukan pencerahan nya, terutama dari rekan-rekan dari Departemen yg relevant di BP MIgas.



Tanggapan 1 - Crootth Crootth


Contoh kasus yang menarik...

mungkin pertanyaannya bisa ditambah:

Bagaimana jika si Engineer yang dulu mengerjakan FEED atau detail design lalu pindah ke end user dan menangani proyek yang sama? atau sebaliknya dari end user pindah ke kontraktor untuk menangani proyek yang sama saat konstruksi?

hehehehe.

Kalau saya sih berpendapat selama sistemnya bagus, hal hal seperti ini tidak memiliki efek sama sekali, namun pertanyaan terbesarnya adalah:

Sebagus apa sih sistem yang bagus itu??


Tanggapan 2 - Donny Agustinus


Hm..kenapa nggak boleh ya perusahaan yang mengerjakan FEED kemudian dia juga yang mengerjakan EPC, bukannya lebih bagus karena dia lebih mengerti asal-usul serta seluk beluk permasalahan project nya?

Di kantor saya bekerja saat ini, lagi bikin Peru LNG, dulu semasa FEED dikerjakan sama Perusahaan "A" (sebut saja begitu), kemudian, Clientnya minta si Perusahaan A ini mengajukan lagi harga untuk pekerjaan EPC nya, karena dia sudah percaya dengan si Perusahaan A tadi.

Artinya, sebenarnya kan nggak ada regulasi International yang melarang hal seperti itu bukan?

Seingat saya, ada project di Russia yang FEED nya di kerjakan di London, kemudian EPC nya juga bakal dikerjakan sama perusahaan itu.

Kalau Engineer nya pindah? seharusnya nggak masalah kan, karena nature pekerjaan antara Engineer di PMT dengan di Contractor adalah berbeda.
Kalau pandangan saya, justru Engineer di Client agak susah pindah ke Contractor karena ya itu tadi, nature kerja nya yang berbeda, tapi nggak begitu sebaliknya.

Hanya sekedar pandangan lho, kalau nggak setuju ya boleh saja...he..he.. jangan marah ya..



Tanggapan 3 - Awaluddin Berwanto


Sekedar menambahkan,
Kalau saya melihat peraturan yg melarang Company yg mengerjakan FEED juga mengerjakan detail engineering adalah yg perlu ditinjau kembali. Saya nggak tahu apakah peraturan model ini hanya berlaku di Indonesia saja atau juga ada dibelahan dunia lain. Kalau di Malaysia, kelihatannya nggak berlaku itu.

Dengan semakin meningkatnya harga minyak & gas, maka seluruh operator berlomba-lomba untuk memperoduksi minyak & gas secepat mungkin. Bukan saja itu, negara-negara yg memiliki blok-blok juga menginginkan agar para pemilik blok (PSC) segere berproduksi agar segera dapat memenuhi kebutuhan mereka thd energi.

Akibatnya trend proyek saat ini banyak dikerjakan secara "Fast Track Project" atau malahan "Super Fast Track Project" di mana kadang-kadang Feasibility Study dan FEED dikerjakan bersama-sama atau FEED dan Detail Engineering dikerjakan secara serentak. Kalau dulu, banyak yg menganggap praktek semacam ini tidak baik dan merendahkan mutu pekerjaan, tapi banyak juga yg berhasil. Dengan banyaknya sistem "Fast Track", sangatlah menguntungkan apabila kontraktor yg mengerjakan FEED sekalian juga
mengerjakan Detail Engineering, yg penting orang-orang yg mengerjakan atau yg memeriksa hasil pekerjaan kontraktor adalah yg memiliki kemampuan dan kompetensi yg baik.

Kalau untuk engineer yg sering pindah-pindah, itu mah biasa. Sebagai profesional, engineer tdk perlu loyal sama company yg menggajinya, tapi loyal terhadap profesinya. Di mana ada "gula" disitulah engineer yg mumpuni akan berkumpul.

Dulu, mungkin lebih banyak engineer yg memilih masuk ke dalam operator company (misal: BP, Shell atau Petronas) sebagai karyawan tetap dgn menunggu uang pensiun dan bonus tahunan. Tapi trend belakangan ini menunjukkan banyak engineer yg keluar dari operator company terus masuk ke konsultan/engineering company dgn imbalan yang baik. Mungkin...kalau engineer yg dari operator agak susah kalau masuk ke engineering company karena sudah biasa bersikap sebagai "juragan", tinggal perintah kontraktor, sehingga kalau berubah menjadi orang yg menerima perintah agak gimana gitu (...kikuk). Tapi kalau yg dari kontraktor, rasanya lebih mudah untuk masuk ke operator, tinggal menambah sedikit ilmu sperti teknik presentasi, teknik meeting yg lama (...soalnya kalau di operator banyak presentasi dan meeting, ke BP Migas misalnya...he-he



Tanggapan 4 - roeddy setiawan

Dear Pak Dirman,

Menarik sekaligus baik untuk direnungkan oleh rekanyang kebetulan kutak kutik dibidang policy... umumnya kalau perusahaan amrik si employee itu disuruh baca dan mengerti yang diabaca tentang "corporate policy" saya kurang faham terjemahan yag betul ituk istilah ini.. tapi ini menjalar ke contractor yang biasa dapat pekerjaan dr si perusahaan amrik tersebut..
misalnya saya mau melamar opening untuk suatu company yg world class di Tengiz
si contractor tahu kalau perusahaan ABAS di Tengiz itu punya non poaching employement...
dia tidak bisa terima saya sebelum saya dapat surat lolos butuh dr "ABAS indonesia" contractor yg mau pake saya, tidak bisa megajukan saya ke "Abas tengiz",,,, ada lobang sebetulnya,,,, misalnya saya well plan,,,enam bulan yang lalu saya keluar,,,, sekarang kalau saya minta dimajukan ke Abas Tengiz ngak ada masalah on paper,,, tentunya tergantung yg mereksa,,, kalau teman saya di Abas Tengiz, punya integritas pasti dia reject hhhe tapi yg namanya manusia usah terus ....

dulu jaman orba dan dibawah pengawasan bppka, hal seperti ini cukup ketat pak, tidak bisa kita dari telogorejo SA pindah ke telogosary BV yang masih dalam satu rayon,boleh pindah (kalo diterima) ke bangku dengdek ltd di pulau lain saya kira sekaran katanya jaman kebebasan suka suka saja ... jadi pusing nih mana yg baik nih pak Dirman padahal kan mau weekend istirahat.



Tanggapan 5 - roeddy setiawan

Wah, ahir minggu makin rame ikutan ah,,,

Saya kira di Amrik yang tidak memakai system cost recovery tidak ada sama sekali kekangan project harus say edg ato mustang buat feed atau inhouse resources yng bikin feed tergantung project director dan staf nya lah formulate kemana berapa lama siapa yg di jadi company interest untuk mengerjakan jadi sudah ada beberapa preferable engineering company kira kira paling cost effective...
tentunya untuk sampai kesana staff dr project director sudah bekerja jauh hari sehingga bisa formulate a good plan,, sr topside, offshore installation, flow assurance , project control,dst

sebelum ada project director, a cross funtional team inside the company evaluate bagaimana reserve ini di monetize,,,reservoir engineering geo scientis , drilling , dan facilities drafting the plan bg mana kapan target onstream nya yg paling baik sambil semua hard data diuji ulang,,, he he core di ct scan kalo perlu, carbon isotop , lead isotop di kaji ulang buat lihat mineralisasi dll buat memastikan project sanction tidak jeblok,,,

sebelum ada sampai ke cross funtional team kerja,,sebelumnya drilling membuktikan mimpinya geoscientis, disini di drill dan disana juga mas sampai ke basement, resrvoir engineering, kasak kusuk bikin pre evaluation prospect, nogo, abandon, berdasarkan tools dan hard fact yg dia lihat...

sebelum sampai ke drilling, geo scientis bulak balik presenting mimpinya ke cross funtional team sekalian kalau diaprove bikin master expenditure buat beli data kalo di amrik atau reprosesing yg sudah ada , atau bid area baru ,,,,,
jadi panjang buanget dr start mimpi bisa sampai 15 th an di local indonesia kalau dr discovery ke first oil in tank 10 tahun sudah bagus.

nah yg kita lihat sebetulnya bagi facilities yng mengerjakan brang brong disana sini, minta steel , rebutan crane barge, rebutan steel, padahal kegiatan ini cuman bagian dr kegiatan besar sebelumnya, semua harga jadi irasional,, 110 $/bbl atau 5 x dr 2003.,, antara capital cost 2003 dg 2008 cuman lima tahun engak jelas juntrungan nya... he he he (mudah mudahan bpmigas ,kkks tiadak diburu tpk ha ha ha sudah capek disuruh menghadap nerangin ini itu ) average 10 kali lipat lah.....drilling cost ofshore dulu 800 rb buat grassroot well he he sekarang paling murah 8.5 million ditempat yng sama.. saya jangan dibilang steel cost, steel sudah di book , cari juga ngak ada..

di lokal amrik juga sama project yg dulu di tulis cuman 800 -1000 sekarang muncul dg wajah baru jadi 7000 ha ha, kembali ke persoalan semula nurut aku sekarang ini kusut tumpang tindih antara geo politic dan energy dan amrik yg berusaha tidak stahll, di amrik kalo sudah tulis afe, suka suka mau belanja ke siapa,,, tapi njangan dikira bisa dapat cipratan , 100 % dijamin tidak akan ada
ngak usah pake tender,,, pemerintah malah seneng kalao beli mahal,,, heat up economi,,,banyak orang kerja,,, stimulate bisnis lanjutan on and on and on semua nya accelerasi
seperti yg pak Dam bilang bagai mana sih yg baik, nurut saja amrik, ngak bisa dibantah system mereka work,,,makin maju, kalau kita lihat mereka keluar dr perang vietnam mereka keluar compang camping,,, di perang iraq jauh seperti main game , yg nembakin roket ke target di afgan -pakistan ada di colorado sambil sruput kopi predator nya on lepas rudal . dalam 20 mereka akselerate, disana sistemnya ngak bisa kolusi, gampang ketemu,, dan pake duitnya sendiri nah disini beda banget,,,, selama pendapatan dan pengeluaran seseorang tidak tercatat dg baik dan ada di publik domain,,, selama itu korup, penyalah gunaan dan teman teman nya pesta pora,,, selama itu pula kecurigaan akan membayangi setiap usulan,,, harus dipereksa bpmigas , dan seterusnya, karena uang nya pemerintah yg dipakai,, lihat swasta ngak perlu ke bpmigas ngak perlu ada auditor he he he karena uangnya sendiri yg dipakai..

waktu kita uang nya dapat ngutang di pasar international,,,he he tiba tiba harus nerangkan ke inspector yg datang tentang co2 load, heat load ke body water, heat plume model, atmospheric emmision dan modelnya dan tetek bengek yg tadinya gak pernah ada,, eh usut punya usut si inspector itu phd suruhan nya bank anu yang corporate policy nya berwawasan lingkungan gitu infonya, sambil termangu mangu, gauk garuk kepala, sama saja lah cuman perhatian nya berlainan saja kalau di local kita paranoid,,, kalau ditempat yg lain apa sudah dipikir semua termasuk lingkungan sekitar, karena engak mau kena getahnya doang gitu kira kira,,, nurut saya kalau kita pake duit orang wajar saja kl yg punya duit punya sarat betul pak dam ??


Tanggapan 6 - Dirman Artib


Thank's Bung Setiawan,
Tampaknya tak ada komen dari kolega yang kompeten nih, padahal banyak kaum relevan dan kompeten terdaftar di milis ini.

Jangan-jangan banyak juga yang terlibat skenario Mas DAM yg ngikutin jadi engineer dari mulai mimpi sampai selesai konstruksi juga.....ha...ha...ha...

Atau jangan-jangan sekarang lagi ada praktek FEED diam-diam yg berencana curang :)
(Dalam perspective Indonesian Regulation).

Btw.
Kalau di Amrik itu kayaknya investasi di minyak harus bersaing dengan produksi film holywood yg dari informasi koran lebih besar dari nilai kerjaan EPSC platform ukuran sedang di Indonesia. Bayangkan biaya film spt. Titanic (Jadul ya ?)

Korelasi DGA Oil dan Megger Core Bushing to Ground Power Trafo

"Mohon bantuan rekan-rekan mengenai informasi tambahan atau pengalamannya untuk subyek di atas, sesuai referensi FIST 3-30 Transformer Maintenance. Sebagai tambahan info, dari hasil tan delta menggunakan Doble menunjukkan bahwa semua kondisi trafo adalah bagus. Sementara setelah kami megger, core Bushing ke ground, hasilnya sangat di bawah standar (sekitar 222 kohm saja). Hasil DGA menunjukkan kandungan gas Ethane/Ethylene pada kategori 4."


Tanya - Budi Raharjo
 
Mohon bantuan rekan-rekan mengenai informasi tambahan atau pengalamannya untuk subyek di atas, sesuai referensi FIST 3-30 Transformer Maintenance.

Sebagai tambahan info, dari hasil tan delta menggunakan Doble menunjukkan bahwa semua kondisi trafo adalah bagus. Sementara setelah kami megger, core Bushing ke ground, hasilnya sangat di bawah standar (sekitar 222 kohm saja). Hasil DGA menunjukkan kandungan gas Ethane/Ethylene pada kategori 4.

Terima kasih,


Tanggapan 1 - abdul aziz
 
Mungkin untuk info saja,kalau dari hasil test tan delta sudah bagus.coba bapak megger bushingnya waktu panas terik jangan kondisi mendung.terus meggernya sendiri masih bagus atau sudah dikalibrasi belum? untuk test,bapak coba biarkan lead kabelnya pilih tegangan nominal terus mulai mengukur hasilnya.kalau nilainya tinggi berarti masih bagus.kalau sebaliknya berarti jelek.atau bapak coba ganti battery megger kadang kadang ikut juga mempengaruhi juga.


Tanggapan 2 - rustam saleh
 
Bisa diinfokan spec. transformernya, hasil DGA test, jenis oil transformernya?

(Salah satu kemungkinan) Apakah kondisi insulator bushing transformer bersih dari debu ?,... krn pernah juga sih mengalami insulator bushingnya kotor sehingga pas di megger hasilnya mengecewakan, meski creepage distance insulator bushing besar debu bisa menjadi leakage current path dan menurunkan nilai insulation resistance ketika dimegger.


Tanggapan 3 - Budi Raharjo


Pak Rustam,

Spec-nya, 15MVA ONAF 115/13.8kV YNd1. Ada OLTC di sisi HV, hanya kami selalu posisikan MANUAL dan hasil TTR masih dalam range. Kalau hasil test DGA terakhir: H2=7677ppm, methane=0, acethylene= 59, ethylene=2.84, ethane=380, CO=2087, CO2=5890. Hasil test tahun sebelumnya ethylene lebih besar dibanding ethane. Sedangkan hasil dielectric test=256kV/cm, water content=32ppm.
Kami punya trafo yang sama persis dalam satu switchyard (DGA test level 1), hasil megger core bushing to gnd=703Mohm @0.5kV 5 min.

Terus terang saya juga masih bingung, hubungan core bushing ini dengan timbulnya gas ethane/acethylene seperti dalam referensi FIST 3-30, karena dalam kondisi operasi, bukankah core ini memang digroundkan.

Terima kasih,


Tanggapan 4 - rustam saleh
 
Pak Budi Raharjo,
Sorry krn terlambat merespond bapak, Setelah melihat data DGA test transformer tsb rekomendasi saya "Jangan Pernah Mengoperasikan Transformer tersebut krn kandungan gas yg over limit",
Peningkatan kandungan gas yg over limit menurut dugaan saya diakibatkan terjadinya pemanasan yg timbul krn adanya sirkulasi arus or circulating current.

"Generally the core laminations and core clamps are insulated from earth and deliberately earthed in one point only. It is then possible to reveal any unintentionally earthing, which may give rise to circulating currents if more than one point of the core has connection to the earth – ABB Transformer Handbook page 79"

Core ke ground untuk kondisi normal hanya dihubungkan ke satu titik saja sehingga untuk mengetahui jika ada hubungan ke ground selain dr normal jumper core ke ground pada terminal ground dan core dilakukan insulation resistance test menggunakan megger. Jika terdapat hubungan dr core ke ground selain itu nilai megger pasti jelek dan ini tdk bisa dibiarkan krn akan memicu kenaikan DGA.

Disarankan melakukan pemeriksaan ke dalam transformer untuk menemukan apa yg menyebabkan earthing antara core ke ground dan melakukan perbaikan.

mudah-2an bermanfaat


Tanggapan 5 - rustam saleh


Additional information for Pak Budi Raharjo pertaining to the transformer problem:

The water content is very high. Most probably the core insulation will get better, when you perform a proper drying of the oil. You should try.

The insulation between core lamination and core frame (clamps) is needed to avoid circulating currents. Such currents can cause local warming (hot spots) in the core. When you have strong local heating, you will find some typical gases, indicating a core problem.


Tanggapan 6 - Budi Raharjo
 
Pak Rustam/Pak Azis,

Terima kasih atas share-nya. Mantap penjelasannya, dan cocok dengan temuan kami juga bahwa hasil megger winding juga di bawah standar memungkinkan adanya earthing point di tempat lain selain core bushing.

Wednesday, May 30, 2012

Delivery Time

"Dokumen standard yang dibutuhkan untuk custom clearance (Bea Cukai) : Invoice, Packing List & Bill of Lading (B/L). Tapi untuk jenis barang2 tertentu ada tambahan dokumen yang dibutuhkan. Jenis pajak/bea untuk barang impor yang standar adalah bea masuk. Tarifnya beragam, mulai dari 0% s/d 5% dari harga barang (yang standard). Ada juga barang2 tertentu yang lebih besar persentasenya tarif beanya. Semua dokumen pada poin 1 mestinya disediakan oleh penjual barang kepada anda selaku pembeli, sebelum kedatangan barang di pelabuhan tujuan. Anda bisa mengurus custom clearancenya sendiri (kalo punya izinnya) atau mendelegasikan ke perusahaan yang punya izin (PPJK - Perusahaan Jasa Kepabeanan). Mengenai delivery time, info yang paling akurat tentu berasal dari penawaran yang diberikan penjual barang impor tersebut kepada anda."


Tanya - Iwan Febrianto


Dear All

Saya mau tanya mungkin teman teman ada yang pengalaman masalah delivery time untuk material dari luar biasanya berapa lama?
kemudian untuk fabrikasi peralatan biasanya plot waktunya berapa lama...

thanks banget atas info nya.


Tanggapan 2 - okto okto_yd


Dear Iwan,

Pertama jenis material,
Material yang dibeli apaan sih??? Pertanyaan-nya terlalu umum dan delivery time sangat tergantung pada material yang dicari.
Sekedar sharing pada project beberapa waktu yg lalu, beli pipa spec 5L, untuk grade X60 keatas akan lama delivery-nya karena proyek2 pipeline lagi booming dan tidak semua steel manufacturer punya ready stock raw materialnya, jadi pipe manufacturer mesti order dulu ke plate manufacturer.

Kemudian masalah waktu libur, terutama kalo' beli material di eropa banyak liburannya disana, terutama italia, lagi piala eropa bisa libur nasional.

Trus masalah custom clearance, kadang2 bisa menghabiskan waktu extra 3 atau 4 minggu.

Mesti punya expediter yang andal, terutama waktu sekarang ini, banyak manufacture yang full booked....



Tanggapan 3 - hapsari.reinnette


Pak Iwan,

Pengiriman materialnya darimana ? Asia, Eropa atau Amerika ?
Delivery-nya menggunakan apa ? Seafreight atau Airfreight ?
Berdasarkan pengalaman saya, dari Asia (ie : China) membutuhkan waktu 2-3  minggu untuk penggunaan seafreight dan 2-3 hari untuk airfreight Jika dari Eropa membutuhkan waktu 3-4 minggu untk penggunaan sefreight dan  4-5 hari untuk airfreight
Tapi kalau bapak menggunakana door to door akan lebih cepat lagi.

Sedangkan untuk fabrikasi peralatan tergantung peralatan apa yang kita  bicarakan.
Apakah material yang terbuat dari bahan dasar steel atau yang lainnya.
Beberapa waktu terakhir ini, steel sedang banyak digunakan sehingga untuk  fabrikasi casting ataupun forging lumayan cukup lama.

Terimakasih untuk perhatiannya.
Jika ada yang tidak berkenan, mohon diperbaiki.


Tanggapan 4 - Edward Veldman


Rekan-rekan sekalian,

Mohon maaf sebelumnya untuk Bapak-bapak yang sedang berdiskusi. Ijinkan saya untuk ikut serta dalam diskusi ini berhubung saya juga memerlukan beberapa informasi mengenai prosedur dalam mengimpor barang dari luar negeri.

Saat ini perusahaan kami sedang memesan beberapa barang dari Filipina (berupa perangkat sistem untuk jalan Tol. Maaf juga bila OOT). Yang ingin saya tanyakan :

1. Dokumen apa saja yang diperlukan untuk mengurus penerimaan barang ini di Pelabuhan dengan pihak Bea dan Cukai.

2. Apakah untuk barang2 seperti ini akan dikenakan Pajak Barang Mewah ?

3. Kira2 bagaimana prosedur yang berlaku untuk mengurus dokumen tersebut ?

Sebelumnya perusahaan kami belum pernah melakukan impor barang.

Mohon pencerahan dari rekan-rekan sekalian. Atas perhatian dan pencerahan yang diberikan diucapkan banyak terima kasih.


Tanggapan 5 - Sketska Naratama sketska


Mau share tapi "ngambang" nih,

Material nya apa? Material / Equipment? Atau packages?
Darimana? EU / USA / China?
Berat & Dimensi nya berapa?
Special handling? Seperti drum oli, misalnya?
Air freight / sea freight?


Tanggapan 6 - Iwan Febrianto

Maaf untuk jenis material belum dipastikan. ini cuma buat gambaran umum penentuan waktu project. semisal ada package yang dari luar negeri.


Tanggapan 7 - mzuhair mzuhair

Pak Edward,

1. Dokumen standard yang dibutuhkan untuk custom clearance (Bea Cukai) : Invoice, Packing List & Bill of Lading (B/L). Tapi untuk jenis barang2 tertentu ada tambahan dokumen yang dibutuhkan.

2. Jenis pajak/bea untuk barang impor yang standar adalah bea masuk. Tarifnya beragam, mulai dari 0% s/d 5% dari harga barang (yang standard). Ada juga barang2 tertentu yang lebih besar persentasenya tarif beanya.

3. Semua dokumen pada poin 1 mestinya disediakan oleh penjual barang kepada anda selaku pembeli, sebelum kedatangan barang di pelabuhan tujuan. Anda bisa mengurus custom clearancenya sendiri (kalo punya izinnya) atau mendelegasikan ke perusahaan yang punya izin (PPJK - Perusahaan Jasa Kepabeanan).

Untuk mendapatkan info lebih lengkap mengenai proses impor barang, bapak bisa menjadi anggota milis beacukainews@yahoogroups.com

Untuk pertanyaan Pak Iwan mengenai delivery time, info yang paling akurat tentu berasal dari penawaran yang diberikan penjual barang impor tersebut kepada anda.

Maximum connection gas

"Connection Gas (CG): ini sebenarnya adalah salah satu indikasi untuk mengetahui bagaimana tekanan lumpur terhadap tekanan formasi. CG sepengetahuan saya tidak pernah ada panduan jelasnya angka fix, misalnya 20.000ppm atau 50.000ppm. Yang harus diwaspadai dari CG adalah 'trend'-nya, jika melihat trend CG terus meningkat (dari 1 connection ke connection berikutnya), artinya memang drilling kita sudah underbalance, adjust MW harus dilakukan. Kalau hanya 1 data saja CG, menurut saya belumlah tepat untuk weighted up MW, kecuali 1x CG saja tetapi sudah sampai 100.000ppm (roughly)."


Tanya - Karina sari

Hello, mau bertanya-tanya sedikit kepada semua senior drilling engineer, sebenarnya maximum connection gas yang bisa ditolerir pada saat drilling itu berapa ya?
Kapan kira2 saat yang pas buat aku untuk menaikkan lumpur?
Dilihat dari gas reading berapa ya kira-kiranya?
Terus berapa standar barite yang harus ada dilokasi? Apakah 1000 sx cukup? Atau ada standar yang lain?
Kalau barite tidak ada dilokasi, material apa yang aku bisa pakai untuk menambah berat lumpur secara signifikan?
CaCO3 mungkin?
Tolong dibantu dijawab ya?

Thanks, KS


Tanggapan - Nataniel Mangiwa


Saya mau jawab yang saya tahu saja ya..

Connection Gas (CG): ini sebenarnya adalah salah satu indikasi untuk mengetahui bagaimana tekanan lumpur terhadap tekanan formasi. CG sepengetahuan saya tidak pernah ada panduan jelasnya angka fix, misalnya 20.000ppm atau 50.000ppm.

Yang harus diwaspadai dari CG adalah 'trend'-nya, jika melihat trend CG terus meningkat (dari 1 connection ke connection berikutnya), artinya memang drilling kita sudah underbalance, adjust MW harus dilakukan.

Kalau hanya 1 data saja CG, menurut saya belumlah tepat untuk weighted up MW, kecuali 1x CG saja tetapi sudah sampai 100.000ppm (roughly).

Axial Probe Setting

"Pengertian plus (+) dan minus (-) pada axial monitor menunjukkan arah normal/active dari pergerakan axial rotor pada saat rotor beroperasi normal. Biasanya pada axial monitor "JADUL" (jaman dulu) sering dicantumkan Normal atau Counter. Arah pergerakan Normal/active dari rotor tsb dapat ditemukan di manual equipment tsb. Karena rotor akan selalu berada di arah active, maka besaran axial yang diijinkan sampai +0.25 mm. kondisi tsb tentunya menyebabkan babit/white metal di thrust pad pada posisi active telah termakan sebanyak 0.16 mm dari kondisi awal (dengan data actual total float 0.18, +- 0.09). kenapa diijinkan bergerak sampai +0.25 mm? hal itu karena dengan bergerak sampai +0.25 mm tsb, clearance antara rotor dan stator sudah sampai titik terdekat yang diijinkan. Jika bergerak lebih dari +0.25 mm, rotor dan stator bisa bersentuhan (rubbing) dan hal ini tentu dapat menyebabkan catastrophic failure. Oleh karena itu axial monitor harus mengenerate trip signal ke equipment control system untuk menghentikan unit. Kenapa pada sisi in active/minus trip level di set hanya sampai -0.08?hal tsb disebabkan karena bila rotor bergerak kearah minus/counter maka dipastikan terjadi process problem seperti surge, stall, cavitations. Dimana problem tsb dapat mengakibatkan rotor bergerak reverse ke in active side. Nah bila pergerakan tsb sudah menyentuh -0.08, maka equipment harus trip untuk mencegah catastrophic failure juga. Karena pada saat running normal operation, rotor tidak boleh bergerak kearah counter terlalu jauh dari setengah dari total floatnya. Oleh karena itu jika kita melakukan inspection thrust pad saat overhaul, tebal babit in active biasanya masih dalam kondisi normal dan tanpa ada indikasi rubbing. Tidak seperti yang terdapat di thrust pad babit active side. Oleh karena itulah kenapa diaxial monitor tercantum minus dan plus. Bila verifikasi dari axial monitornya oleh instrument dilakukan dengan kaedah yang benar, maka pada saat equipment running normal penunjukan bar graph atau nilai pergerakan axialnya menuju kearah sisi plus/normal. Dan bila ditemukan bar braph nya bergerak kearah minus pada saat normal operation, dipastikan process problem sedang terjadi pada equipment tsb. Tetapi kebanyak axial monitor yang saya temukan, tidak memperhatikan maksud dari nilai plus dan minus tsb. Karena pada saat beroperasi normal tanpa ada process problem), bar graph sudah berada disisi minus/counter. Setelah saya cross check dengan instrument crew, ditemukan kalau setting/verifikasi toward to probe dan away from probe yang mereka lakukan terbalik."


Tanya - mundir


Dear All,

Mohon pecarahannya...
Saya mempunyai pompa Amine dengan settingan axial probe sbb:
alert : -0.05mm and +0.23mm.
trip : - 0.08mm and +0.25mm.
actual floting : 0.18mm.
Yang saya tanyakan:
1. Apa yang menjadi dasar pertimbangan settingan tersebut, kenapa setting probe antara pergerakan shaft inactive(-) and active (+) tidk sama?
2. Gimana caranya untuk menentukan shaft center (zero position)?


Tanggapan 1 - Rury Novrian


Pak Mundir,

1. pengertian plus (+) dan minus (-) pada axial monitor menunjukkan arah normal/active dari pergerakan axial rotor pada saat rotor beroperasi normal. Biasanya pada axial monitor "JADUL" (jaman dulu) sering dicantumkan Normal atau Counter. Arah pergerakan Normal/active dari rotor tsb dapat ditemukan di manual equipment tsb. Karena rotor akan selalu berada di arah active, maka besaran axial yang diijinkan sampai +0.25 mm. kondisi tsb tentunya menyebabkan babit/white metal di thrust pad pada posisi active telah termakan sebanyak 0.16 mm dari kondisi awal (dengan data actual total float 0.18, +- 0.09). kenapa diijinkan bergerak sampai +0.25 mm? hal itu karena dengan bergerak sampai +0.25 mm tsb, clearance antara rotor dan stator sudah sampai titik terdekat yang diijinkan. Jika bergerak lebih dari +0.25 mm, rotor dan stator bisa bersentuhan (rubbing) dan hal ini tentu dapat menyebabkan catastrophic failure. Oleh karena itu axial monitor harus mengenerate trip signal ke equipment control system untuk menghentikan unit. Kenapa pada sisi in active/minus trip level di set hanya sampai -0.08?hal tsb disebabkan karena bila rotor bergerak kearah minus/counter maka dipastikan terjadi process problem seperti surge, stall, cavitations. Dimana problem tsb dapat mengakibatkan rotor bergerak reverse ke in active side. Nah bila pergerakan tsb sudah menyentuh -0.08, maka equipment harus trip untuk mencegah catastrophic failure juga. Karena pada saat running normal operation, rotor tidak boleh bergerak kearah counter terlalu jauh dari setengah dari total floatnya. Oleh karena itu jika kita melakukan inspection thrust pad saat overhaul, tebal babit in active biasanya masih dalam kondisi normal dan tanpa ada indikasi rubbing. Tidak seperti yang terdapat di thrust pad babit active side. Oleh karena itulah kenapa diaxial monitor tercantum minus dan plus. Bila verifikasi dari axial monitornya oleh instrument dilakukan dengan kaedah yang benar, maka pada saat equipment running normal penunjukan bar graph atau nilai pergerakan axialnya menuju kearah sisi plus/normal. Dan bila ditemukan bar braph nya bergerak kearah minus pada saat normal operation, dipastikan process problem sedang terjadi pada equipment tsb. Tetapi kebanyak axial monitor yang saya temukan, tidak memperhatikan maksud dari nilai plus dan minus tsb. Karena pada saat beroperasi normal tanpa ada process problem), bar graph sudah berada disisi minus/counter. Setelah saya cross check dengan instrument crew, ditemukan kalau setting/verifikasi toward to probe dan away from probe yang mereka lakukan terbalik.

2. Cara menentukan zero position bisa dilakukan dengan 2 cara. Cara pertama dengan pengecekan mechanical total floating dengan bantuan magnetic dial dan dengan nilai totoal float tsb baru kemudian rotor dibawa ke posisi tengah dan kemudian axial probe kita install pada bracketnya dan di setting pada nilai gap -10 vdc. Cara pertama ini biasa disebut mechanical bump test.
Cara ke dua dilakuakn pengecekan axial total float dengan axial probe terpasang pada bracketnya. Dari data volt dc yang didapat pada saat pengecekan total float tsb kemudian dibagi dibagi 2 dan di hasilnya ditambah atau dikurangin dengan -10 vdc. Hasil data pengurangan tsb dapat digunakan oleh kita untuk menyetting axial probe sebanya volt dc yang di dapat dari hasil kalkulasi td walaupun rotor sudah mentok di posisi inactive ataupun active side. Cara kedua ini biasanya disebut electronic bump test.

Semoga membantu.


Tanggapan 2 - Mundir


Dear Pak Rury,

Terima kasih atas penjelasanya...
Kemarin kami telah selesai memasang axial probe dg zero position pada nilai gap -9.75 vdc.

Ekonomi Teknik (Investasi)

"Terdapat dua instrumen evaluasi investasi yang umum digunakan untuk menilai apakah suatu investasi akan dilakukan atau tidak. Instrumen tersebut adalah Net Present Value (NPV) dan yang kedua adalah Internal Rate of Return (IRR). Dalam melakukan investasi tentunya harus dilakukan perbandingan antara investasi yang satu dengan yang lainnya misalnya uangnya diinvestasikan di bank saja, karena bunganya lebih menarik. Investasi terbaik akan didapat apabila NPV dan IRR sama-sama bernilai tinggi. Pada kasus tertentu sering dinyatakan bahwa IRR dengan nilai yang tinggi akan lebih menguntungkan daripada investasi dengan nilai IRR yang lebih rendah, walaupun tidak demikian, karena pada kondisi tertentu IRR bisa menyesatkan."

Tanya - hadi muttaqien hadimtq2000


Dear rekan MIGAS,

Dalam rangka budgetary suatu proyek mohon kiranya rekan2 ada yang bisa share mengenai NPV & IRR, suatu proyek dianggap menguntungkan bila NPV gede IRR kecil atau NPV kecil IRR gede?
Kalau secara Financial Management ada pepatah TO MAXIMIZE SHAREHOLDER VALUE , bisa artinya NPV yang gede dan IRR kecil yang dipilih.

Tanggapan 1 - M Zaki Zulqornain


Mestinya dua2nya gede dong.

Tapi sbg rujukan, kriteria pertama adalah NPV positif dan terbesar, baru kemudian kriteria berikutnya (IRR, ROI, PP, etc).

Kenapa yg didahulukan NPV dibandingkan yg lain? Secara sederhana, karena NPV merepresentasikan nilai keuntungan yg akan terjadi di masa depan, pada masa skrg.

Parameter2 lain kebanyakan hanyalah berupa rasio, tidak menggambarkan nilai uang/keuntungan dari investasi yg akan dilakukan.


Tanggapan 2 - hadi muttaqien hadimtq2000


Pak M. Zaky,

Saya sependapat dengan anda mengenai NPV terbesar yang terpenting, tapi saya masih hati2 dengan IRR karena menyangkut waktu dan besarnya bunga yang harus dibayar, karena kemungkinan IRR bisa membuat NPV sebuah peluang investasi sama dengan nol.
Terimakasih untuk tanggapannya.


Tanggapan 3 - M Zaki Zulqornain


Pak Hadi,

Secara matematika, IRR didapat dg mencari nilai discount rate yg membuat nilai NPV menjadi nol, jadi pernyataan Bapak bahwa 'kemungkinan IRR bisa membuat NPV sebuah peluang investasi sama dengan nol' itu rancu, karena memang secara matematika definisi IRR adalah seperti yg saya sebutkan di atas.

Coba lihat di sini: http://en.wikipedia.org/wiki/Internal_rate_of_return dan http://en.wikipedia.org/wiki/Net_present_value

Kenapa IRR didapat dari mencari discount rate yg membuat NPV = 0? Karena itu menggambarkan ekspektasi investor akan tingkat pengembalian investasinya.
Jika IRR tinggi, artinya ruang utk ekspektasi thd tingkat pengembalian investasinya cukup lebar (dari rentang nilai free risk interest, misal obligasi negara, yg relatif rendah karena tdk butuh premium akibat free risk, sampai ke nilai IRR investasi, yg cukup tinggi). Jika IRR rendah, maka rentang tsb sempit.

Misal jika IRR suatu proyek 30%, maka investasi tsb dipandang lebih baik dari proyek dg IRR 20%, karena jika dikenakan tingkat ekspektasi pengembalian investasi 30%-lah maka investasi itu cuma bisa impas (NPV = 0), sementara jika dikenakan tingkat ekspektasi lebih rendah dari 30%, let say 25%, maka NPV proyek tsb positif.

Sementara utk investasi dg IRR 20%, maka ketika dikenakan tingkat ekspektasi pengembalian investasi sebesar 25%, maka NPV-nya menjadi negatif. Artinya si investor hanya boleh memasang tingkat ekspektasi maksimal 20% (yg cuma untuk menjadi impas saja).

Kalau mau mempelajari finance secara online, bisa ke situs ini: http://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/

Mudah2an membantu.


Tanggapan 4 - Dicky@Web


Pak Zaki, terima kasih atas informasi yang sangat membantu sekali.

Pak Eko Setiadi juga telah menjelaskan beberapa metriks untuk analisa keekonomian suatu proyek yang juga sangat membantu dalam pemahaman indikator keputusan investasi.

Ijinkan saya untuk menambahkan sedikit saja untuk membantu menjawab pertanyaan Pak Hadi.

Kambali ke pertanyaan awal pak Hadi yang menanyakan indikator investasi mana yang paling baik dalam kaitannya dengan *Penyusunan Anggaran* (Budgeting) investasi. Saya tekankan disini konteks nya apa, karena ini terkait dalam pemilihan indikator mana yang terbaik.

Sepintas saja. Menurut saya penyusunan anggaran investasi secara sederhana adalah pengalokasian sumber daya (terutama dana) untuk investasi proyek dan memberikan hasil yang optimal. Indikator yang sering digunakan antara lain NPV, IRR, Payback Period (atau variasinya seperti Discounted Payback Period), NPV over Investment (sering digunakan utk perusahaan Migas), Return on Capital Employed (untuk indikator shortterm).

Nah pertanyaannya adalah indikator mana yang paling baik ?

Perdebatan memang dari sejak lama memang terjadi, terutama antara kelopok pro indikator NPV vs IRR. Kelompok yang pro NPV mengatakan bahwa "Cash is King". NPV adalah indicator yang sebenarnya dalam merefleksikan tujuan dari bisnis yaitu menghasilkan uang sebanyak-banyak."...Bang for Bucks...", katanya. Selain itu disebutkan IRR punya kelemahan yaitu tidak bisa memberikan nilai IRR yang sebenarnya apabila cashflow nya multi-signs (walaupun ada metode untuk mengatasi kelemahan ini) dan tidak menggambarkan konsep Time Value of Money (walaupun ada yang mengusulkan a.l. menggunakan metode Discounted IRR)

Kelompok yang pro IRR mengatakan bahwa bahwa NPV tidak menggambarkan optimasi dan efisiensi penggunaan sumber daya dana investasi dalam kaitannya dengan rate dari pengembaliannya (rate of return). Contohnya katakan nilai NPV Proyek A sebesar Rp 100 juta dan Proyek B sebesar Rp 10 juta. Secara naluri mungkin kita akan memilih Proyek A karena nilainya 10x lebih besar. Tapi kalau Proyek A membutuhkan investasi sebesar Rp 75 juta sedangkan Proyek B hanya sebesar Rp 1 juta, Proyek B dapat dikatakan mempunyai nilai resiko yang lebih kecil (exposure dana perusahaan dalam kegiatan investasi yang lebih kecil) dan tingkat pengembalian yang lebih besar (IRR besar).

Saya pribadi tidak berpihak ke indikator mana yang terbaik karena menganggap semua indikator adalah penting untuk dianalisa, bergantung dari situasi dan konteks apa indikator investasi tsb digunakan. Contohnya, apabila suatu perusahaan dalam situasi langka dana investasi dan mempunyai pilihan beberapa proyek, tentunya mereka lebih mementingkan efisiensi dan optimasi investasi proyek dengan resiko sekecil mungkin dibandingkan nilai dari proyek tersebut. Sedangkan perusahaan yang beruntung mempunyai dana yang tersedia banyak, mereka punya kemampuan besar untuk membiayai multi proyek, sepanjang proyek-proyek tersebut mempunyai nilai NPV positif (tentunya setelah risk adjusted yang kadang direfleksikan dari nilai discount rate yang digunakan dalam perhitungan NPV).

Kembali ke pertanyaan pak Hadi dalam kaitannya dengan pemilihan indikator, sama dengan yang telah saya uraikan di atas, ini bergantung dari situasi keuangan perusahaan pak Hadi serta appetite perusahaan terhadap nilai resiko proyek.

Semoga membantu dan bermanfaat.



Tanggapan 5 - Eko Setiadi Eko.Setiadi


Pak Hadi,

Terminology NPV & IRR, sebenarnya merupakan indicator kelaikan project, yg dapat diproyeksi pada tahap feasibility studi.

Secara umum, dapat disebutkan indikator2 dasar, yaitu:

1. Net Present Worth/Value

Adalah perbedaan antara nilai sekarang dari penerimaan total dan nilai sekarang dari pengeluaran sepanjang umur proyek pada discount rate yang diberikan.

Pendekatannya adalah pada konsep cash flow (cash in/cash out), project dikatakan laik apabila NPV>0.

2. Rate of Return (ROR) atau Return on Investment (ROI)

Adalah discount rate yang memberikan harga NPV = 0

ROR merupakan perolehan per tahun dari investasi suatu proyek

ROR sendiri ada dua macam, yaitu:

> Eksternal ROR, yaitu return yang diperoleh apabila investasi dilakukan di luar organisasi. Contoh: suatu perusahaan menyimpan dananya di Bank atau membeli saham perusahaan lain.

> Internal ROR (atau IRR), yaitu return yang diperoleh apabila investasi dilakukan di dalam perusahaan sendiri. Contoh, suatu perusahaan melakukan pengeboran untuk menambah kapasitas produksi, atau melakukan fracturing untuk meningkatkan produksi sumur.

3.Payback Period (PBP) atau Payout Time (POT)

Terminologi ini mendefine jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan investasi yang ditanam.

Nah, dari indikator2 di atas, Anda bisa mendefinisikan: dengan project yg hendak dikerjakan, seberapa besar capital cost yg hendak dikeluarkan, proyeksi revenue nya, estimasi kapan mendapatkan kembali investasi yg ditanam. Dengan pendekatan ini pula, dapat dikalkulasi price estimasi (bila tdp product yg akan dikeluarkan).

Tentunya setiap project berbeda, tergantung bidang nya, scope of work, dan regulasi (term of contract) yg memayungi nya.


Tanggapan 6 - hadi muttaqien hadimtq2000


Pak Zaki, Pak Eko dan Pak Dicky,

Terimakasih ikut sharing di sini, dan menambah wawasan saya.
Menarik kalau NPV-IRR di seminarkan, Pak Dicky saya kira pas bilbeliau yang sebagai penggerak atau moderatornya. Kalau usulan saya seminarnya membahas investasi di dunia Migas dan Power Plant, atau pekerjaan Proyek di kedua bidang, dengan sumber dana G to G atau sektor swasta.
Ini sekedar sebagai usulan.



Tanggapan 7 - Dicky@Web


Pak Hadi,
Maaf baru balas sekarang.
Terima kasih atas usulan pak Hadi. Menarik sekali terutama topik public vs private investments, tetapi mohon maaf saya tidak mampu aktif mejadi penggerak seperti yang diusulkan berhubung lokasi saya yang tidak berada di Indonesia.



Tanggapan 8 - komang anom


Terdapat dua instrumen evaluasi investasi yang umum digunakan untuk menilai apakah suatu investasi akan dilakukan atau tidak. Instrumen tersebut adalah Net Present Value (NPV) dan yang kedua adalah Internal Rate of Return (IRR). Dalam melakukan investasi tentunya harus dilakukan perbandingan antara investasi yang satu dengan yang lainnya misalnya uangnya diinvestasikan di bank saja, karena bunganya lebih menarik. Investasi terbaik akan didapat apabila NPV dan IRR sama-sama bernilai tinggi. Pada kasus tertentu sering dinyatakan bahwa IRR dengan nilai yang tinggi akan lebih menguntungkan daripada investasi dengan nilai IRR yang lebih rendah, walaupun tidak demikian, karena pada kondisi tertentu IRR bisa menyesatkan.

Pada NPV, semua future cash flow dikonversikan menjadi suatu nilai ekuivalen pada waktu tahun ke nol dengan menggunakan teknik diskounting. NPV merupakan penjumlahan dari masing-masing present value dari net income yang diproyeksikan tiap tahun. Setiap future income didiskon, artinya dibagi dengan bilangan yang merepresentasikan oppurtunity cost dari memiliki modal mulai tahun ke nol hingga tahun dimana income diterima atau dibelanjakan. Oppurtunity cost dapat berupa berapa banyak uang yang dapat diterima apabila diinvestasikan di tempat lain atau berapa banyak bunga yang akan dibayar apabila kita meminjam uang.
Rumus:
NPV :
            NPV = I0 + I1/(1+r) + I2/(1+r)2 + I3/(1+r)3 + .+ In/(1+r)n
dimana:
I0 adalah investasi tahun ke-0
In merupakan net income tahun ke-1, 2, 3, .n
r merupakan discount rate
NPV > 0, proyek diterima
NPV < 0, proyek ditolak
Dari rumusan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan:
-          makin tinggi income, makin tinggi NPV
-          makin lebih awal datangnya income, makin tinggi NPV
-          makin tinggi discount rate, makin rendah NPV
Untuk membandingkan dua proyek yang mana akan dipilih dapat dilakukan dengan membandingkan kedua nilai NPV proyek, dimana NPV proyek yang lebih besar yang akan diambil.
IRR atau Internal Rate of Return, merupakan instrument evaluasi yang digunakan untuk memutuskan apakah suatu pemilik modal ingin melakukan investasi atau tidak.

    IRR > tingkat keuntungan yang diisyaratkan, proyek diterima
    IRR < tingkat keuntungan yang disyaratkan, proyek ditolak


IRR lebih merupakan suatu indikator efisiensi dari suatu investasi, berlawanan dengan NPV, yang mengindikasikan value atau suatu besaran uang. IRR merupakan effective compounded return rate annual yang dapat dihasilkan dari suatu investasi atau yield dari suatu investasi. Suatu proyek/investasi dapat dilakukan apabila rate of returnnya lebih besar daripada return yang diterima apabila kita melakukan investasi di tempat lain (bank, bonds, dll). Jadi IRR harus dibandingkan dengan alternatif investasi yang lain.
Secara matematis, IRR didefinisikan sebagai discount rate yang menghasilkan NPV sama dengan nol. Misal:

YearCash Flow
0-100
1+30
2+35
3+40
4+45
Internal Rate of Return (IRR)
NPV = 0 = -100 + 30/(1+r) + 35/(1+r)2 + 40/(1+r)3 + 45/(1+r)4
IRR: = r,
NPV = 0, pada r = 17.09% sehingga IRR = 17.09%


Grafik NPV sebagai fungsi dari r (sumbu X merupakan discount rate dan sumbu Y merupakan NPV) - terlampir.
IRR memiliki kelemahan dimana IRR umumnya digunakan untuk pengambilan keputusan untuk single project bukan mutually exclussive project (proyek yang saling menghilangkan). Untuk mutually exclusive project, kriteria NPV lebih dominan digunakan dimana proyek dengan NPV lebih besar akan dipilih walaupun memiliki IRR yang lebih kecil. Dari grafik, suatu proyek mungkin akan memiliki beberapa discount rate yang membuat nilai NPV = 0 (ada net income negatif di sela-sela tahun net income positif), sehingga nilai IRR bisa lebih dari satu atau kita dihadapkan pada beberapa pilihan nilai IRR. Dari segi reinvestasi, IRR juga memiliki kelemahan sehingga digunakan MIRR (Modified Rate of Return).

Walaupun secara akademik NPV lebih dominan dipilih, survey mengindikasikan bahwa kalangan eksekutif lebih menyukai IRR daripada NPV. Hal ini dikarenakan para manager ataupun pemilik modal lebih gampang membandingkan investasi/proyek yang berbeda besaran dalam bentuk % rate of return (IRR) dibandingkan dengan besaran uang (NPV).


Tanggapan 9 - NYOMAN PRIBADI@enerkon
Komang......mantap ulasannya panjang dan njelimet bagi saya yang Cuma dapet kaya gituan waktu kuliah Analisa Teknik dan Biaya hehehe btw......kembali ke pangkuan ibu pertiwi mang??

Lead Engineers required for an FPSO project in Singapore

Our client, an international Oil and Gas Operator is seeking a number
of Lead Engineers for a project starting mid 2012 in Singapore.

Experience:

- 15 + years in the Oil and Gas Industry
- FPSO project experience
- Asian construction yard experience
- Operator experience (preferred)

Disciplines:

- Project Engineer
- Electrical and Instrumentation Engineer
- Mechanical Engineer
- Safety Engineer

Email your CV if interested, otherwise feel free to forward this
information to any colleagues or friends who might be suitable.

Any questions, please do not hesitate to contact me.

Regards,
Richard Halewood
Regional Business Manager

Mentor IMC Group - Global Oil & Gas Resource Specialists
Email: richard.halewood@mentorimcgroup.com
Web: www.mentorimcgroup.com

Posted By Richard Halewood

Go to the complete announcement
http://www.linkedin.com/e/xax6v5-h2sghnfv-6m/vaq/119290401/2967799/-1/eml-anet_a\
ncmt-b-0/?hs=false&tok=37WwCq5xWylBg1


Don't want to hear from the manager:
http://www.linkedin.com/e/xax6v5-h2sghnfv-6m/vgs/2967799/?hs=false&tok=3gl0UBzJq\
ylBg1


(Job) PT. GRP (7 Position)

We Are, Lead of Construction, Electrical And Mechanical For Oil & Gas Industry, Inviting Highly Motivated. Enthusiastic and Professional Candidates To Join For Fill In The Following Position As
POSITION:

1. ENGINEERING (ENG)
2. OFFSHORE COORDINATOR (OFS)
3. ONSHORE COORDINATOR (ONS)
4. ELECTRICAL/INSTRUMENT (E/I)
5. GA MANAGER (GAF)
6. HSE OFFICER (HOF)
7. PAYROLL STAFF (PAY)
GENERAL REQUIREMENTS:
• Mate/Female max. 32 years old (ENG, OFS, OHS, E/I, HOF, PAY)
• Male/Female max. 40 years old (GAF)
• Can work as teamwork, honest, responsible and able to communicate in English and Indonesian.
• Ready to be placed in any project location (ENG, OHS, OFS, E/I, HOF).
• Experienced 2.3 Years In Oil & Gas Industry for All Position
• Prefferable have AK3 Umum certificate

SPECIAL REQUIREMENTS:
• S1 Mechanical engineering (OFS)
• D3++ or S1 Mechanical (ONS & ENG)
• D3 Technical or equivalent (HOF, E/I)
• S1 Management background and 3 Years experiences as GA Manager (GAF)
• Prefferable 03 Accounting (PAY)
• Preferable welding & corrosion inspection certificate (OHS & ENG)
• Computer literacy (MS Office & Project) (OFS, ONS & ENG)
If you are the one we are looking for, please send your complete CV with your bachelor certificate, additional certificates & expected salary before two weeks after this
advertisement and put the code to the top left of envelopes, by following address: PT. Gearindo Prakarsa
Jl. Radin Inten II No. 31 Duren Sawit, Jakarta Timur 13440
gear.recruitment@gmail.com
or
gear.recruitment01@gmail.com

Kerjasama KMI-Gobal Project Management (PMP Fundamental Workshop)

Dear Rekan Migas,

Kembali KMI memfasilitasi rekan-rekan yang ingin mengambil sertifikasi PMP untuk Bidang Project Management....KMI dan Global Project Management melaksanakan kerjasama untuk workshop/pembekalan sebelum pelaksanaan ujian.

Jika berminat silahkan...anggota KMI kita berikan diskon sebesar 1jt/org tentunya...dan limited hanya 10 peserta per batch....dan dilaksanakan hari Sabtu & Minggu

Sukses semua
Vinny Muharam

Required

ELECTRICAL PROJECT ENGINEER

Job descriptionYou will be part of our team within the electrical group and mainly work on minor projects within the Oil & Gas and wind power industry. You will be involved in design of control and distribution panels.
Travelling both site and offshore can be anticipated.

Qualifications:• Graduated Engineer or Certified Electrician/Technician
• Experience with explosion proof enclosures
• Knowledge of PC Schematic
• Writing and speaking high standard English
• Good health for work in the Marine/Offshore environment
• Minimum three years of experience with project engineering.

Personal qualifications:You will be part of a dynamic worldwide team of engineers which will require your ability to cooperate with local engineers as well as cooperate with our engineers around the world.

You have a personal drive and can work independently and well-structured on various projects in a busy organisation.


ELECTRICAL ENGINEER


Job description
We are looking for employees at all position levels and with experience in:
  • Lead engineers with profound oil / gas experience and within the disciplines in the project.  This function also has a leading technical role for other project engineers
  • Generalists who are familiar with most of the fields within the discipline. 
We are looking for employees for engineering tasks in the following areas:
Condition monitoring / vibration monitoring on structures and rotating equipment
Turbine and generator upgrade of controller and controller system.
Primary tasks: 
  • System description and technical specifications
  • Making of cable lists, signal lists, equipment lists, component lists
  • Equipment layout, cable layout
  • Data sheets
  • Inter-connection drawings, block diagrams, single line diagram
  • Control panel design (specification)
  • General project documentation 
Qualifications:
  • Knowledge of controllers and monitoring of / from industrial facilities
  • Knowledge of and experience with the tasks listed above
  • Knowledge of ATEX/EX 
Additionally, for condition monitoring:
  • Experience with network communication (Fibre-optic broadband/Ethernet/Modbus) 
Additionally, for generator and turbine:
  • PLC/SCADA, control – design, I/O-lists (no coding)
  • Serial communication (Modbus and similar) 
As the project is managed in cooperation with our offices in Norway, Singapore and Denmark, you must be willing to travel.
Qualifications: 
  • We expect you to have an education as either a graduate engineer, a Bachelor of Technology Management and Marine Engineering, an electrical technician, a certified electrician or similar.
  • Primarily experience from the machine/process industry
  • Preferably with experience from the oil & gas industry
  • For the position as lead engineer, an additional minimum of 5 years experience from the offshore industry is required
English in speech and writing

Should you be interested, please let me know, along with an indication of your availibility and an update of your CV and I will gladly forward your details to the relevant parties for consideration
CV submissions to:

If you have any colleagues who may be interested in available positions, please feel free to circulate this information
Best regards

David Midwood
Marketing Director
Browning and Henderson International Ltd.
+44 (0)1258 830322

Oman Gas Company Recruitment Campaign Jakarta - Jun 2012

Oman Gas Company S.A.O.C. (OGC) is the major gas transportation company in Oman delivering natural gas to main economic sectors and major consumers comprising of Domestic, Power and Desalination plants, Fertilizer, Methanol, Petrochemical, Refinery, Steel and Cement plants. The Company is involved in the transmission and distribution of natural gas, through a large network of gas pipelines, compressor stations and gas supply stations. The Company also provides project management services in pipeline construction. For more information about the company, please visit www.oman-gas.com.om.
Now, the company is looking for qualified candidates to fill the following vacant positions:

Sr Reliability Engineer
Sr Operation Support Engineer
Sr Quantity Surveyor
Sr Facility Inspection Engineer
Head of Engineering Services

HOW TO APPLY:
To view detailed jobs and to apply online, please visit http://www.amrecindo.com/ogcjobs.php, Only shortlisted candidates will be notified for an interview.

SHORTLISTED CANDIDATES WILL BE NOTIFIED FOR INTERVIEW ON 3RD WEEK OF JUNE IN JAKARTA

You are receiving this email because you have subscribed at our jobsite or you have submitted your application to our recruitment department, please disregard this email if you are not interested in or not qualified for above position(s). You may forward this email to your friends who has such qualifications as required. Please do not apply if you are not meet the minimum requirements. Amrecindo.com does not keep resumes on file for future employment vacancies. Applications are normally accepted only for announced position vacancies. Vacancy announcements with information about the position, required qualifications, and application requirements will be posted on this mailinglist and at www.amrecindo.com.

You are subscribed to the Newsletter: Petrochemical Jobs using the email ID: sketska@gmail.com.
Unsubscribe from this list at any time by visiting the URL: http://member.amrecindo.com/cgi-bin/mail.cgi/u/petrochemical/.
If the above URL is inoperable, make sure that you have copied the entire address.
If you're still having trouble, please contact the list owner at: news@amrecindo.com.

KMI Kolaborasi Training- API 570 Course (25-30 June, 2012) Jakarta

Karena minimum peserta untuk pelaksanaan di Jakarta belum cukup, maka dengan berat hati akhirnya harus diundur pelaksanaannya. Untuk rekan2 yang sudah mendaftar mohon maaf untuk ketidak nyamanannya...

Silahkan untuk mengikuti training ini....KMI kembali bekerjasama untuk kegiatan ini:
Ladwer Institute is going to open API 570 : Piping Inspector Course in 25 - 30 June 2012.
 
If you are interested in joining  the course, please have a look in the following flier in the attachment,
The confirmation to join the course can be done by sending the registration form attached

dan silahkan menghubungi :
Yerry Sidramuntihevi
Ladwer Institute
Ruko Anggrek Mas 2 Blok A2 No. 12B
Batam Centre - Batam
Telp          : 0778 - 7886660
Fax            : 0778 - 7495024
E-mail      : info_ladwer@yahoo.com; info@ladwer.com
website  : www.ladwer.com
 
 
 
Thanks  & Best Regards,

Vinny Gemilia
Program Direktur KMI

Vacancy of Sales and Marketing Manager - PT McDermott Indonesia

P.T. McDermott Indonesia, a leader in the field of engineering and construction for offshore oil and gas industry, specializing in design, fabrication, installation and overall construction management of sophisticated marine engineering projects, would like to invite proficient, efficient, and highly motivated applicants to be assigned to its Jakarta Business Development Department for the position of :
SALES & MARKETING MANAGER
JOB DESCRIPTION
GENERAL
-       Report to Country Manager, Indonesia and functionally to Regional Sales & Marketing Director
-       Supervise Sales Coordinator
-       Liaise with various functional groups in the region and other teams within the area.
SALES & MARKETING
-       To be the primary point of contact for existing and potential customers on business development/sales and marketing activities in the geographic area of responsibilities particularly for the assigned portfolio.
-       Plan, execute and control sales & marketing activities for the assigned portfolio in accordance to the prevailing procedures including develop, maintain and improve strong business relationships with both existing and potential customers and actively develop and update the deliverables.
-       Understand well BP MIGAS Procurement Guideline PTK-007 and things related to Indonesian content.
-       Support other team(s) in the area on the development of business relationships with strategic institutions / corporations.
-       Plan arrangements for participation in trade conventions, seminars, etc.
 
JOB REQUIREMENT
-       Minimum 15 Years Oil and Gas related industry preferably upstream sector.
-       Prior experience in offshore oil and gas related business development or project management / project engineering / fabrication / offshore construction.
-       Good knowledge of business development, marketing and sales. 
JOB QUALIFICATION
-       Graduated engineer or higher.
Application letters detailing fully experience and education standard attained to :
HR DEPARTMENT
PT. McDERMOTT INDONESIA
E-mail : JakartaHRD@mcdermott.com

Monday, May 28, 2012

Basic Principles of Security Management System


"Security Management termasuk area sistem manajemen yang sudah diapplikasikan sejak dulu kala. Walaupun belum membaca referensi terdokumentasi, saya bisa memastikan bahwa zaman Roman Caesar security management ini telah secara sistematic direncanakan, diimplementasikan dan terus ditingkatkan berdasarkan kegagalan/insiden atau memang ada forum khusus untuk me-review sistem yang telah ada agar paling tidak misalnya mengamankan rahasia praktek perselingkuhan kaisar agar misalnya tidak diserang para senator :)"


Pembahasan dari - Dirman Artib
 
Security Management termasuk area sistem manajemen yang sudah diapplikasikan sejak dulu kala. Walaupun belum membaca referensi terdokumentasi, saya bisa memastikan bahwa zaman Roman Caesar security management ini telah secara sistematic direncanakan, diimplementasikan dan terus ditingkatkan berdasarkan kegagalan/insiden atau memang ada forum khusus untuk me-review sistem yang telah ada agar paling tidak misalnya mengamankan rahasia praktek perselingkuhan kaisar agar misalnya tidak diserang para senator :)

Dalam Safety Management System, sebahagian besar menggunakan pendekatan Risk Management (Manajemen Resiko) dimana Hazard diidentifikasi, kemudian Risk dikalkulasi berdasarkan perkalian "Probability" seberapa besar kemungkinan hazard itu mengenai object dan "Consequence" seberapa besar dampak/kerugian yang ditimbulkan ya. Metode dan data kualitiatif dan kuantitatif telah dikembangkan dan dicatat/digunakan untuk mendukung keakuratan perhitungan ini.

Pendekatan Risk Management juga merupakan "jalan ampuh" dalam merencanakan, mendokumentasikan dab mengimplementasikan Security Management System. Tetapi perbedaan sangat prinsip adalah antara "Hazard" pada safety dan "Threat" pada security. Jika "Hazard" merupakan sumber atau situasi yang berpotensi mencelakai manusia, merusak peralatan, dan lingkungan kerja maka "threat" juga demikian, tetapi bedanya adalah bahwa "threat" adalah persamaam matematika yg varibale nya adalah MOTIVASI dan KAPABILITAS dari enemy, jadi threat tercipta karena adanya "motivasi dan kapabilitas" dari seseorang atau organisasi untuk mencelakai, merusak peralatan dan/atau lingkungan kerja tersebut. Jadi pada "threat" secara prinsip bahwa ada individu/organisasi tertentu yang berencana dan bertindak, inilah yang disebut sebagai "adversaries" atau "enemies".

Jadi :

Threat = Fn (Motivasi, Kapability of Adversary/Enemy)

Jika adversary mempunyai motivasi, tetapi dia tidak punya cukup kapabilitas dalam melakukan penyerangan/tindakan maka "threat" = 0 (tidak ada) Atau sebaliknya, adversary mempunyai kapabilitas, tetapi dia tidak punya niat/motivasi untuk menyerang maka "threat" =0 (tidak ada)


Tanya - Dirman Artib


Security Management termasuk area sistem manajemen yang sudah diapplikasikan sejak dulu kala. Walaupun belum membaca referensi terdokumentasi, saya bisa memastikan bahwa zaman Roman Caesar security management ini telah secara sistematic direncanakan, diimplementasikan dan terus ditingkatkan berdasarkan kegagalan/insiden atau memang ada forum khusus untuk me-review sistem yang telah ada agar paling tidak misalnya mengamankan rahasia praktek perselingkuhan kaisar agar misalnya tidak diserang para senator :)

Dalam Safety Management System, sebahagian besar menggunakan pendekatan Risk Management (Manajemen Resiko) dimana Hazard diidentifikasi, kemudian Risk dikalkulasi berdasarkan perkalian "Probability" seberapa besar kemungkinan hazard itu mengenai object dan "Consequence" seberapa besar dampak/kerugian yang ditimbulkan ya. Metode dan data kualitiatif dan kuantitatif telah dikembangkan dan dicatat/digunakan untuk mendukung keakuratan perhitungan ini.

Pendekatan Risk Management juga merupakan "jalan ampuh" dalam merencanakan, mendokumentasikan dab mengimplementasikan Security Management System. Tetapi perbedaan sangat prinsip adalah antara "Hazard" pada safety dan "Threat" pada security. Jika "Hazard" merupakan sumber atau situasi yang berpotensi mencelakai manusia, merusak peralatan, dan lingkungan kerja maka "threat" juga demikian, tetapi bedanya adalah bahwa "threat" adalah persamaam matematika yg varibale nya adalah MOTIVASI dan KAPABILITAS dari enemy, jadi threat tercipta karena adanya "motivasi dan kapabilitas" dari seseorang atau organisasi untuk mencelakai, merusak peralatan dan/atau lingkungan kerja tersebut. Jadi pada "threat" secara prinsip bahwa ada individu/organisasi tertentu yang berencana dan bertindak, inilah yang disebut sebagai "adversaries" atau "enemies".

Jadi :

Threat = Fn (Motivasi, Kapability of Adversary/Enemy)

Jika adversary mempunyai motivasi, tetapi dia tidak punya cukup kapabilitas dalam melakukan penyerangan/tindakan maka "threat" = 0 (tidak ada) Atau sebaliknya, adversary mempunyai kapabilitas, tetapi dia tidak punya niat/motivasi untuk menyerang maka "threat" =0 (tidak ada)

Lalu, bagaimana mengukur "Risk" ?
Risk dalam security dihitung dari penjumlahan "threat" dan "vulnerability"
Risk = Threat + Vulnerability

Vulnerability adalah kelemahan yang bisa dieksploitasi oleh adversary untuk memperbesar akses atau memperparah kerusakan/kerugian/cedera atau menghentikan fungsi tertentu dari sistem sebuah organisasi.

Persoalan nya adalah, bahwa risk tidak bisa diukur jika tingkat threat tidak diketahui, sementara pengukuran threat akan tergantung motivasi dan kapabilitas dari adversary/musuh. . Kedua hal tersebut senantiasa naik-turun karena tergantung bermacam-macam faktor. Motivasi menyerang misalnya akan meningkat jika individu/organisasi tertentu merasa kecewa, marah dan merasa diperlakukan tidak adil. Peningkatan motivasi bisa juga terjadi karena sebuah ideology yang terus menerus ditiupkan kedalam kepala seseorang/organisasi. Kapabilitas misalnya juga bisa meningkat saat-saat di mana musuh mendapatkan dana atau baru saja menemukan metode/teknologi baru untuk menyerang. Terkadang teknologi tidak perlu canggih karena terbukti WTC berhasil diserang dengan menggunakan kejelian bahwa penerbangan sipil beserta bahan bakarnya bisa dimanfaatkan untuk serangan yang efektif. Maka, di sinilah diperlukan sebuah operasi intelijen yang berfungsi secara terus
menerus memonitor/mengamati kedua hal penting tsb. yaitu naik-turun tingkat motivasi dan kapabilitas musuh.

Siapa yang berpotensi untuk menjadi adversaries/enemies ?
Potensi untuk menjadi adversaries/enemies adalah :
1. Partner bisnis yang curang
2. Pelanggan yang curang
3. Karyawan yang tidak puas (merasakan diperlakukan tak adil)
4. Organisasi/perorangan yg bertindak kriminal, organisasi militant (paramiliter) yg tak terkendali
5. Para aktivis (politik, lingkungan, sosial, perburuhan) yang bertindak negative
6. Teroris domestik/internasional

Bagaimana cara memitigasi Risk dari security aspek ini ?
Yang pertama-tama dilakukan adalah melakukan Risk Assessment dengan cara :
1. Mendefinisikan lokasi/peralatan atau kumpulan orang yang akan dilindungi--> Seberapa penting ? Seberapa menarik objek ini untuk diserang (target of atttactiveness") ?
2. Mengidentifikasi dan menetapkan karakter dari "threat" -> Membuat tipe-tipe threat yg mungkin, e.g. sabotase, ketidakstabilan pemerintahan akibat pemilu tak bermutu, hukum yg tidak dihormati/ditegakkan, pemerintahan yg tidak didukung rakyat, tekanan untuk meminta uang oleh
organisasi/kelompok orang, tekanan untuk bertindak korup, demonstrasi yg tak terkendali, gerakan militan, konflik antar kelompok di luar/di dalam organisasi, perselisihan antar karyawan, dll.
3. Identifikasi kelemahan dari sistem atau praktek manajemen yang ada -> Apakah ada prosedur yg relevan ? Apakah integritas peralatan/personnel bisa diandalkan?
4. Mengukur tingkat Risk -> Menilai kemungkinan tingkat kesuksesan dalam penyerangan , dan dampak dampaknya jika terjadi
5. Merangking Risk -> Bila tingkat Risk tinggi, maka harus dicari strategy/tactic/alat dan rekomendasi untuk menurunkan tingkat resiko
6. Mengidentifikasi dan mengevaluasi cara-cara mitigasi dengan option yang tersedia -> Risk reduction and cost benefit analyses

Apa sub-sistem yang harus di establish ?
1. DETECT - Cara mendeteksi motivasi dan kapabilitas adversaries -> Salah satu cara adalah menyelenggarakan oprerasi intelijen atau membeli data dari hasil intelijen.

2. MONITOR - Menetapkan cara memonitor dan mengolah,
menganalisa data/informasi dari operasi intelijen

3. RESPONSE - Menetapkan sistem response (alert) yang berbeda untuk tiap-tiap tingkat "threat" agar bisa PREVENT, DELAY, REDUCE serangan. Perlu ditetapkan indikasi dari informasi/data untuk trigger kebutuhan naik ke alert level yang lebih tinggi e.g. Tawuran antar pendukung partai tertentu akan menaikkan tingkat alert SIAGA ke AWAS.

4. EVACUATE - Menetapkan sistem, proses, skenario dan jalur evakuasi (sementara, longterm) agar bisa mndukung point 3.

Terkadang misalnya pengawalan oleh tentara pada sebuah area konflik/pemberontakan justru meningkatkan Risk karena kita memperjelas "target of attractiveness".

Silahkan ditambahkan jika ada yang kurang, terutama rekan-rekan yg mendapatkan pendidikan formal dikepolisian, militer.



Tanggapan 1 - Alvin Alfiyansyah


Dear Pak Dirman,

Thanks a lot atas guideline yg singkat dan padat ini. Jangan-jangan baru aja selesai project utk security vulnerability analysis nich ….

Term yang dipakai Pak Dirman Europe sekali, term di Amrik standard agak berbeda walau maksudnya tidak jauh berbeda. Mungkin yang perlu ditambahkan adalah penjelasan mengenai Countermeasure yang akan banyak dibahas di step no. 6 dari risk assessment ala Pak Dirman dan sub system response. Penjelasan mengenai Layer of Protection, rings of protection, sampai jenis2 response yang dibutuhkan seperti physical security, information security, etc. haruslah diperhitungkan dengan seksama.
Setidaknya design basis utk area kompleks perumahan yang banyak terdapat instalasi penunjang ataupun instalasi pabrik maka security management system yang memperhitungkan vulnerability adalah melalui 5 langkah berikut [1] :
1. Project planning
2. Site characterization
3. Threat identification
4. Vulnerability analysis
5. Countermeasures assessment

[1] GUIDELINES FOR Analyzing and Managing the Security Vulnerabilities of Fixed Chemical Sites, CCPS AICHe, 2003.

CMIIW, silakan yang lain menambahkan lagi. I must attend other meeting ....


Tanggapan 2 - Crootth Crootth


Uda Dirman, Alvin,

Kalian ini, yang satu kerja untuk perusahaan eropa (AMEC) satunya untuk perusahaan States (Chevron)... heheheh.. tentu saja cultur perusahaan mempengaruhi cara seseorang menyelesaikan persoalan

Jadi ingat kalau Dyadem itu ngeluarin satu sofware khusus buat "Security-Vulnerability Analysis" yakni SVA Pro6.

Dulu saya sering coba coba itu software, dan menarik juga... mirip software HAZOPnya Dyadem PHA Pro6 (sekarang udah versi 8 barangkali).


Tanggapan 3 - Dirman Artib


Yang lebih menarik lagi tentunya mengamati minat para milister terhadap area ini, saya yakin beberapa orang yg melihat bahwa subject nya adalah "Security" maka langsung delete, karena persepsi nya yg nulis pasti Komandan Satpam :)
Padahal investasi milyaran dollar akan musnah hanya dalam hitungan detik jika memang ada realisasi serangan adversary yg sebelumnya tidak terdeteksi hanya karena misalnya memanfaatkan "vulnerability" dalam security of data.

Oh....mana tahaaaaan ......tuh asset yg sudah capek-capek didesain dan dibangun dengan seabrek-abrek "well known" standards, tapi hanya akan menjadi puing bilamana "motivasi" of "sabotage & vandalism" didukung dengan "Capability" (personnel, alat, dana, knowlefge for gaining hydrocarbon effect) is sucessfull attack. Akibatnya crued price naik lagi sampai di atas USD 100, semakin dekat resesi tp bagi sebahagian orang seperti duren runtuh karena komoditi ikutan akan juga naik spt. emas, coal, karet, jagung, bahkan kacang kedele :)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India